Warung Bebas

Kamis, 25 Februari 2010

Corn Oil and Cancer?

The benefits of corn oil keep rolling in. In a new study by Stephen Freedland's group at Duke, feeding mice a diet rich in butter and lard didn't promote the growth of transplanted human prostate cancer cells any more than a low-fat diet (1).

Why do we care? Because other studies, including one from the same investigators, show that corn oil and other industrial seed oils strongly promote prostate cancer cell growth and increase mortality in similar models (2, 3).

From the discussion section:
Current results combined with our prior results suggest that lowering the fat content of a primarily saturated fat diet offers little survival benefit in an intact or castrated LAPC-4 xenograft model. In contrast to the findings when omega-6 fats are used, these results raise the possibility that fat type may be as important as fat amount or perhaps even more important.
There's a large body of evidence implicating excess omega-6 fat in a number of cancer models. Reducing omega-6 to below 4% of calories has a dramatic effect on cancer incidence and progression*. In fact, there have even been several experiments showing that butter and other animal fats promote cancer growth to a lesser degree than margarine and omega-6-rich seed oils. I discussed that here.


* The average American eats 7-8% omega-6 by calories. This means it will be difficult to see a relationship between omega-6 intake and cancer (or heart disease, or most things) in observational studies in the US or other industrial nations, because we virtually all eat more than 4% of calories as omega-6. Until the 20th century, omega-6 intake was below 4%, and usually closer to 2%, in some traditional societies. That's where it remains in contemporary traditional societies unaffected by industrial food habits, such as Kitava.

when life gives you lemons....







3:14 yesterday i found out the fate of my next 17 weeks...bed rest.
with taylor, i spent 3 months on bed rest. and while people think that bed rest would be a luxury, i can assure you otherwise. only being allowed to get up to shower and go to the potty is not what i consider a luxury item....having to have someone wait on you 24/7 and take care of your child is like a prison sentence. it's hard on your whole family.
i have shed my tears and now i am stating that i am not going to dwell on situation but rather make lemonade from it: i'm going to be thankful for my wonderful supportive family, smile as i listen to tay upstairs playing the drums, laugh as i watch warren pick out her outfits and try to do her hair, give lots of kisses to tay when she is sitting in my lap, enjoy being able to catch up w/ my friends when they call to check in, work on expanding my business (e*design and a website are in the works), make my blog better, keep the designer's attic up (a huge thank you to all of the people who have supported that blog), take time to read books (any suggestions?), and most of all- take care of myself so that we can welcome a healthy, baby boy into our lives this june (and hopefully not before then)....

Rabu, 24 Februari 2010

Olga's CVPR paper

I'd like to congratulate my colleague Olga Barinova on the paper, which is accepted to CVPR international conference! To my knowledge, it is the first paper from our lab, which is accepted to a Rank 1 conference (though it was written during Olga's internship at Microsoft Research).

The paper is on multiple object retrieval. They extend the Hough transform with some graphical model, which makes the results more robust. As soon as the paper become publicly available, I'll add the link here.

UPD. (Apr 20, 2010) PDF

UPD (Jul 30, 2010) Video

a fish and a hat....


the next time your significant other says 'i am going to mount a fish in our house', say 'that's fine...i'm going to spray paint it gold and make it wear a hat'...then you have a happy compromise ;)

Selasa, 23 Februari 2010

Buah Keben, utk atasi Katarak..




Tanaman keben mudah sekali ditemukan di sepanjang pantai papua. saat itu di papua Heinrich sedang mengamati penduduk papua yang sedang membius ikan menggunakan biji keben yang dilumatkan dengan atau tanpa dicampur akar tuba dan ditaburkan ke permukaan kolam.

Setelah beberapa saat, ikan-ikan yang bersembunyi di dalam lopak-lopak dan paluh-paluh kolam akan mengambang di permukaan sehingga lebih mudah ditangkap. Namun, ikan-ikan tersebut tidak mati, hanya pingsan selama sekitar 20 menit. Bila tidak diambil dan efek biusnya habis, ikan yang pingsan akan pulih kembali dan berenang ke habitat asalnya seperti sediakala. Dugaannya, saponin, glukosida, dan beberapa zat lain yang terdapat dalam biji keben melumpuhkan sistem saraf pada badan dan mata ikan.

Setelah melihat hal tersebut, membuat Henrich tertarik untuk meneliti lebih jauh apa saja yang terjadi dengan ikan ikan tersebut. saat itu ia berfikir bahwa biji keben yang ditaburkan ke kolam telah memengaruhi sistem saraf mata ikan sehingga menjadi seperti pingsan. Dan karena ikan tersebut ternyata dapat pulih kembali, berarti biji keben tersebut tidak merusak mata. Itulah yang membuat ia yakin bahwa ekstrak biji keben bisa mengobati gangguan mata dan tidak membahayakan kesehatan manusia. dan dari sinilah Heinrich mulai tertarik untuk mencoba memanfaatkan buah keben untuk pengobatan mata


.Sebelumnya memang belum pernah ditemukan pengobatan tradisional yang menggunakan biji buah keben dari spesies Barringtonia asiatica untuk mengobati penyakit mata. Namun spesies lain dari genus Barringtonia, yakni putat hutan (B. macrostachya Kurz.) bagian akarnya dan butun darat (B. racemosa L. Bl. Ex. DC) bagian bijinya telah diguna-kan di Kalimantan dan Jawa untuk mengatasi gangguan mata. Sayangnya, tidak diketahui dengan jelas jenis-jenis penyakitnya.

Sampai akhirnya, pada Desember 2002 Heinrich menemukan komposisi obat tetes mata dari biji keben. Obat tetes ini dibuat dari biji keben yang berspesies 6. asiatica dan fi. exce/sa tanpa campuran bahan lain. Buah keben tersebut diperoleh dari pohon yang tumbuh di tepi pantai Desa Nafri, DistrikAbepura, Kotamadya Jayapura, Provinsi Papua. Bahan baku biji keben dapat pula diperoleh dari pantai Base G, Distrik Jayapura Utara dan pantai Hamadi, Distrik Jayapura Selatan. Buah dipilih yang sudah matang, dicirikan dengan adanya semburat cokelat pada kulitnya. Dalam memproduksi obat tetes ini, Heinrich tidak pernah mengambii Iangsung dari pohonnya, melainkan hanya mengambii buah yang sudah jatuh dengan sendirinya.

Awalnya ia mencobakan obat tetes yang dibuatnya, pada matanya sendiri yang menderita hipermetropia plus 4. Setelah ditetesi sebanyak 20 kali, masing-masing mata 2 tetes (1 tetes = 0,06 ml.) setiap dua hari sekali, ia merasakan ada perbaikan. Saat itu hipermetropia di matanya telah turun menjadi plus 2. Hasil uji coba ini semakin membuatnya yakin bahwa obat ini tidak menimbulkan efek samping atau membahayakan kesehatan orang lain. Hanya saja setelah di tetesi, mata akan terasa pedih sekitar 15 – 30 menit.

Dengan keyakinan ini, ia memberanikan diri untuk mengujikan obat tetes mata buatannya pada penderita gangguan mata di Jayapura, kota tempat tinggalnya. Hasil uji coba ini membuktikan bahwa obat tetes mata keben mampu menyembuhkan penyakit katarak, pterigium, glaukoma baru, miopia, dan hipermetropia. Sampai saat ini belum ada pasien yang mengeluh atau keberatan dengan obat tetes mata keben. Mereka justru memberikan dorongan dan semangat supaya obat ini dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas. Heinrich juga mendapat perhatian dan dukungan dari kalangan medis seperti, dr. John Manangsang, dr. Barus Siahaan, dan dr. Lewerissaa (ahli mata di RS Dok 2, Jayapura).

Tanaman Keben

Keben merupakan tanaman yang berbentuk pohon dan berkayu lunak memiliki diameter sekitar 50 cm dengan ketinggian 4-16 meter. keben mempunyai sistem perakaran yang banyak dan sebagian tergenang di air laut ketika sedang pasang. ia juga memiliki banyak percabangan yang terletak di bagian bawah batang mendekati tanah. bentuk daunnya cukup besar, mengkilap dan berdaging. daun mudanya berwarna merah muda dan akan berubah menjadi kekuningan setelah tua.

Di papua buah keben disebut dengan sebutan rabon pi. bagian luarnya terdiri dari kulit berserabut dan didalamnya terdapat tempurung. di dalam tempurung terdapat sebutir biji yang keras, berlendir dan berwarna putih. buah ini memiliki bunga selebar 16 cm yang berwarna putih dengan benang sari berwarna merah muda. besar buah keben seukuran genggaman tangan orang dewasa, berwarna hijau ketika muda dan akan menjadi kecokelatan setelah tua dan kering.

Taksonomi tanaman keben

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Dilleniidae

Ordo : Lecythidales

Famili : Barringtoniaceae Rudolph! (-Lecythidaceae)

Genus : Barringtonia

Spesies : Barringtonia asiatica Kurz

Sinonim : Barringtonia spedosa J.R. Forster

Nama daerah: Bitung, butun (Menado); butun (Sunda);butung, keben (Jawa); keben-keben (Bali); utong (Alor); bitung tumbak, witung witung (Minahasa); hutu (Gorontalo); wutuna (Buol); hutun (Ambon); keptun (Halmahera Selatan); mijiu, pitu, mijimu (Halmahera Utara); mojiu (Ternate).

Senyawa apa saja yang terkandung dalam buah keben ?

Hingga saat ini telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkap kandungan senyawa aktif dalam tanaman keben, Greshoff, peneliti dari Belanda menemukan zat-zat seperti saponin beracun di dalam biji yang sudah diterapkan dalam ilmu kedokteran. Dari penelitian-penelitian lain diketahui bahwa selain saponin, buah dan biji keben juga mengandung asam galat; asam hidrosianat yang terdiri dari monosakarida; serta triterpenoid yang terdiri dari asam bartogenat, asam 19-epibartogenat, dan asam anhidro-bartogenat.

Senyawa aktif dalam biji buah ini, yang diduga kuat memiliki efek penyembuhan dalam pengobatan mata adalah dari golongan saponin. Beberapa jenis saponin telah berhasil diidentifikasi. saponin yang berasal dari buah keben merupakan saponin jenis baru. Dengan kandungan senyawa tersebut buah keben telah dilaporkan memiliki banyak aktivitas farmakologis seperti anti bakteri, anti jamur, analgesik, dan anti tumor.
Sumber :http://radixvitae.com/index.php?id=30


NB: Tersedia Ektrak Buah Keben mampu menyembuhkan penyakit katarak, pterigium, glaukoma baru, miopia, dan hipermetropia. Harga 450rb/8 ml.(jabotabek free ongkos kirim). Pemesanan : 081310343598 / budiprakoso98@gmail.com
 

ZOOM UNIK::UNIK DAN UNIK Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger