Warung Bebas

Jumat, 25 Januari 2013

Kebangkitan Bundesliga di Eropa

kebangkita bundesliga di eropa

kebangkita Bundes Liga di eropa

kebangkitan Bundesliga di eropa




Diantara 5 kompetisi elit sepak bola Eropa, Bundes Liga (Liga jerman) bukanlah yang paling dikenal di dunia. Secara global, fans klub-klub Bundesliga masih kalah banyak dari kompetisi lain, seperti Serie A, Premier league atau pun Laliga.

Tetapi untuk sekarang Bundesliga, bukan lah kompetisi biasa lagi, Bundesliga sudah mulai dikenal dan sebagian klub-klub yang berlaga di Bundesliga sudah mendapatkan reputasi yang menakutkan di kancah Eropa. 

3 klub wakil dari jerman untuk liga champion eropa 2013 berhasil lolos ke fase 16 besar. Bukan sekedar lolos saja, tetapi ketiga klub tersebut yakni, Borussia Dortmund, Bayer Munich, dan Shcalke 04 lolos dengan predikat sebagai juara group. Bahkan untuk Borussia dortmund dan Shcalke 04 menjadi juara group tanpa terkalahkan dalam fase group tahun lalu.

Di kompetisi kasta kedua Eropa (Liga Europa), empat wakil jerman lainnya lolos ke babak 32 besar Bayer 04 Leverkusen, Borussia Mönchengladbach, VfB Stuttgart dan Hannover 96 akan mengadu nasib untuk menjadi yang terbaik di kompetisi itu. 

Jelas bahwa kini tak ada yang suka jika harus berhadapan dengan tim Jerman. Tetapi otoritas Bundesliga mengatakan bahwa perkembangan bagus sepakbola Jerman tidak diraih dengan mudah.

Berikut adalah kronologi kebangkitan sepakbola Jerman yang disusun oleh otoritas Bundesliga.
 

1. Era kegelapan 

Pada pergantian milenium, Jerman merasakan akibat jangka panjang dari kompetisi lokal yang kurang tertata. Timnas mereka dihuni pemain-pemain tua dan Bundesliga tak mampu menyediakan pemain muda berkualitas.

Jerman yang merupakan juara bertahan Euro harus tersisih oleh tim non-unggulan Portugal dengan skor 0-3. Jerman semakin malu setelah kalah dari Inggris pada tahun itu. Kekalahan itu menjadi noda karena Jerman sebelumnya tak pernah kalah dari The Three Lions selama 34 tahun di ajang kompetitif.

2. Mencari arah baru 

Publik Sepakbola Jerman merasa perlu menemukan arah baru untuk memperbaiki prestasi klub dan timnas mereka. Jerman ingin mengembalikan kejayaan masa lalu yang pernah mereka nikmati. Namun kali ini dipastikan bahwa hasilnya akan dinikmati semua klub, bukan hanya klub-klub besar saja.

Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) bersama Otoritas Liga Jerman (DFL) setuju untuk melakukan investasi besar-besaran untuk pemain muda. Mereka mengarahkan semua usaha agar Bundesliga bisa terus menghasilkan pemain berkualitas.

DFL tak malu mengakui bahwa mereka meniru sebagian konsep yang telah dikembangkan oleh Prancis di Clairefontaine. Mereka bahkan mengembangkan aturan yang lebih bagus untuk diaplikasikan pada Bundesliga dan Bundesliga 2. Jerman hanya butuh waktu setahun untuk menyiapkan semuanya karena tahun 2001 rencana mereka mulai diaplikasikan.

 3. Hasil kerja keras

Nyaris satu dasawarsa berselang, buah dari kerja keras otoritas sepakbola Jerman mulai terlihat. Yang paling jelas adalah banyaknya bakat muda yang bisa dipilih oleh pelatih Joachim Low pada Piala DUnia 2010 Afrika Selatan.

Low mengatakan bahwa Jerman seperti menjadi ladang emas bagi pelatih timnas karena banyaknya pemain muda berkualitas yang bisa dipilih. Nationamannschaft, julukan timnas Jerman berhasil mencapai semifinal dengan pemain-pemain muda hasil didikan kompetisi dalam negeri.

Sayang, keberhasilan timnas belum bisa diikuti oleh klub-klub Jerman di pentas Eropa. Dortmund yang merupakan juara Bundesliga tak bisa berbicara banyak di Liga Champions musim lalu dan finis di tempat terakhir pada fase grup.

4. Kebangkitan Klub-klub Bundesliga

Dortmund rupanya hanya butuh sedikit pengalaman untuk bisa kembali bersaing menjadi yang terbaik di Benua Biru. Setahun setelah gagal total di Liga Champions, mereka kembali dengan lebih kuat. Imbasnya, Dortmund mampu menjadi juara Grup D yang merupakan grup paling berat musim ini.

Dortmund melenggang dengan empat kemenangan dan dua hasil imbang. Hebatnya, skuad Jurgen Klopp ini tampil gemilang di Eropa dengan usia rata-rata skuad yang baru 23 tahun. Kebanyakan dari pemain mereka juga adalah produk asli akademi di Jerman.

Dortmund bahkan disebut-sebut menjadi salah satu kandidat peraih gelar juara Liga Champions musim ini. Benar atau tidak prediksi itu nantinya, Dortmund dipastikan akan kembali ke Liga Champions musim depan dengan pengalaman yang lebih.

5. Kemajuan Menyeluruh

Bukan hanya Dortmund yang merasakan hasil revolusi sepakbola Jerman. Klub-klub lain pun menikmati aliran pemain-pemain muda berkualitas.

Schalke, contohnya, berhasil lolos ke babak 16 besar juga tanpa terkalahkan di fase grup. Permainan menarik dengan pemain-pemain seperti Julian Draxler dan Lewis Holtby menjadikan rival lokal Dortmund ini kembali diperhitungkan.

Hal yang sama juga dirasakan oleh empat tim yang berlaga di Liga Europa. Ada Gonzalo Castro, Lars Bender dan Andre Schürrle di Leverkusen. Stuttgart punya Serdar Tasci dan Sven Ulreich, Hannover punya Lars Stindl dan Konstantin Rausch. Di Gladbach, ada Patrick Hermann dan Marc-Andre ter Stegen. Semuanya adalah pemain muda hasil pembinaan di Jerman.

6. Permainan Memukau

Didukung dengan pemain-pemain berkualitas, klub-klub Bundesliga bisa menghadirkan permainan memukau. Tim sekelas Real Madrid atau Arsenal pun angkat topi atas permainan yang ditunjukkan oleh Dortmund dan Schalke.

Jika permainan indah Bayern Munich juga dimasukkan ke dalam hitungan, maka bisa disimpulkan bahwa tim-tim Jerman lebih menyukai sepakbola menyerang nan disiplin khas Jerman

7. Produksi tanpa henti

Secara tradisi, Bayern Munich adalah klub yang paling banyak menyumbang pemain ke timnas Jerman. Mereka masih melakukannya dengan mengirim Philipp Lahm, Bastian Schwaeinsteiger, Thomas Muller dan Holger Badstuber yang merupakan pemain binaan mereka ke Jerman. Selain itu, masih ada Manuel Neuer dan Toni Kroos yang juga binaan asli Jerman.

Yang menarik, meski Bundesliga terus mengekspor pemain-pemain mereka ke liga lain, pemain bintang baru selalu bermunculan.

Ada fenomena menarik lainnya di Jerman. Tim besar seperti Bayern Munich tak bisa lagi dengan mudah mencomot pemain bintang tim Jerman lainnya. Sebelumnya, klub-klub Jerman seperti tak berdaya dengan kekuatan finansial Bayern yang memang digdaya. Kini, klub-klub Jerman sudah bisa berkata tidak saat Bayern berusaha mengambil pemain terbaik mereka.

8. Menjadi panutan Internasional

Kebijakan Jerman untuk mengutamakan pembinaan pemain muda mereka mendapat banyak pengakuan dari seluruh Eropa. Kesuksesan melakukan regenerasi tanpa henti berdampak positif nyaris di semua aspek sepakbola Jerman.

Kekuatan tim-tim Jerman meningkat, kondisi finansial semua klub membaik, iklim kompetisi memanas dan profil Bundesliga semakin bagus di mata penggemar sepakbola dunia. Jika kondisi sepakbola Eropa terus berlangsung seperti saat ini, maka tinggal menunggu waktu saja sampai Bundesliga menjadi kompetisi terbaik Benua Biru.

Kesuksesan Jerman ini nyatanya mampu membuka mata negara lain. Italia dengan Serie A mereka yang sempat terpuruk usai skandal Calciopoli mulai meniru gaya pengembangan pemain di Jerman. Kesulitan keuangan membuat mereka menyadari bahwa kesuksesan tak harus ditempuh dengan mahal, tetapi dengan kerja keras.

9. Pengakuan Dunia

Musim ini, tak ada negara lain yang berhasil meloloskan semua wakilnya ke fase knockout Liga Champions dan Liga Europa. Kemajuan pesat Bundesliga ini mendapat apresiasi dari banyak tokoh sepakbola.

Sir Alex Ferguson mengakui bahwa kualitas Bundesliga secara umum terus menanjak. "Liga Jerman semakin naik. Stadion mereka sangat megah, pertandingan mereka berkualitas dan dihiasi banyak gol."

David Moyes juga berpikiran serupa. Pelatih Everton ini ingin merasakan melatih di luar negeri dan kompetisi yang dipilihnya adalah Bundesliga. Moyes menganggap klub-klub Jerman telah menghidupkan kompetisi Eropa. Yang paling dikagumi Moyes adalah permainan Dortmund ketika menghadapi City.


Kamis, 24 Januari 2013

Comment Published in Nature

I recently read an opinion piece by Gary Taubes in the scientific journal Nature, titled "Treat Obesity as Physiology, not Physics", in which he promoted NuSI and repeated the statement that obesity research is a "house of cards" because it focuses on calories in/out, at the expense of studying the "hormonal regulatory disorders" underlying obesity (1).  I wrote a letter to the editor in response to Taubes's commentary, which has been published in Nature (2).

I'm used to seeing these kinds of claims in the popular press at this point, but to see it published in a scientific journal is galling (even if it's in the opinion section).  This is the equivalent of a person who has never held an ax telling a group of lumberjacks they need to focus on cutting trees.  It's part of a disturbing trend of popular writers in the low-carb and Paleo world attacking researchers, and even entire fields of research, they have little understanding of.  Of course this only applies to a minority of the community, but this argumentation style smells of desperation and reflects poorly on the community as a whole.

Read more »

7 Pesepak bola berseragam Juventus Ac Milan dan Inter milan

7 Pesepak bola berseragam Juventus Ac Milan dan Inter milan
Ac Milan

7 Pesepak bola berseragam Juventus Ac Milan dan Inter milan
Andrea pirlo berseragam Juventus

7 Pesepak bola berseragam Juventus Ac Milan dan Inter milan
Zlatan Ibrahimovic ketika berseragam Ac Milan


Perpindahan pemain dari satu klub, ke klub lain adalah bagian dari sepakbola. Hal ini dilakukan guna memperbaiki atau meningkatkan kualitas di dalam komposisi skuad. Namun, bagaimana dengan kasus perpindahan pemain
antar klub rivalitas?


Kita ketahui bahwa Juventus, AC Milan dan Internazionale memiliki kisah rivalitas yang menarik di Liga Italia. Tak hanya panasnya tensi di lapangan hijau, transformasi pemain yang merasakan atmosfer di ketiga klub, membuat rivalitas tersebut semakin menarik untuk di bahas.

Berikut ini kami sajikan "7 Pesepakbola Berseragam Juventus, Milan, dan Inter"..

1. Aldo serena

 Aldo Serena (striker) di beli Inter pada musim 1978/79 dari klub asalnya, Montebelluna. Kala itu, ia masih berumur 18 tahun. Serena memulai karirnya dari kelas U-19. Selama semusim, ia mendapatkan kesempatan bermain bersama tim utama sebanyak 2 kali, dan mencetak 1 gol.

Pada periode 1979 - 1987, Serena kerap berpindah-pindah klub. Total 6 klub telah dibelanya, AC Milan dan Juventus termasuk di dalamya. Masa kejayaan Serena terjadi pada musim 1988/89, ketika memenangkan scudetto bersama Nerazzurri. Di musim itu, Serena mencetak 22 gol dalam 17 pertandingan Serie A. Setelah itu, ia memilih pindah ke rival sekota, Rossoneri dan mengkahiri karirnya di sana. Hal ini membuat suporter La Beneamata kecewa dan menaruh dendam.

Statistik karir ketika berseragam Inter-Milan-Juve:
 
  • Inter: 165 (caps), 56 (gol)
  • Milan: 30 (caps), 8 (gol)
  • Juve: 51 (caps), 21 (gol

2. Roberto Baggio

 Pada tahun 1982 hingga 1990, Roberto Baggio memulai karir profesionalnya bersama Vicenza, sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Fiorentina di tahun 1985. Bersama La Viola, Baggio bersinar, dan membuat Juventus tertarik untuk memboyongnya di tahun 1990.

Selama 5 tahun berseragam Hitam-Putih, Baggio hanya mampu memberikan 3 gelar kepada Bianconeri. Sehingga pada tahun 1995, ia tak lagi dibutuhkan oleh Marcelo Lippi, dan kemudian hijrah ke AC Milan. Dalam kurun waktu 5 tahun (1995-2000), ia bermain untuk 3 klub, Rossoneri, Bologna dan Inter Milan. Total Baggio mencetak 60 gol di tiga klub tersebut.

Pada periode 2000 - 2004, ia memutuskan untuk hijrak ke Brescia dan mengakhiri karirnya di klub tersebut. Baggio mencetak 46 gol bersama Brescia selama 4 tahun.

Statistik karir ketika bersergam Juve-Milan-Inter.

  • Juve: 200 (caps), 95 (gol)  
  • Milan: 67 (caps), 19 (gol)
  • Inter: 58 (caps), 18 (gol)
3. Edgar Davids

Setelah melihat performa gemilagnya bersama Ajax Amsterdam selama 5 musim, AC Milan akhirnya memboyong Edgar Davids ke San Siro pada musim 196/1997. Namun, kiprahnya bersama AC Milan terbilang gagal. Ia lantas memilih bergabung bersama sang rival, Juventus di musim 1997/98.

Selama 7 tahun berseragam Hitam-Putih, Davids meraih 3 gelar Scudetto. Namun, pada tahun awal tahun 2004, Si Nyonya Tua akhirnya meminjamkan sang pemain ke Barcelona FC. Selama masa peminjaman, Davids membantu pasukan Frank Rijkaard meraih runner-up La Liga.

Pada musim 2004/05, Internazionale memboyong Davids dari Juventus, dengan durasi kontrak selama 3 musim. Lagi-lagi, ia tak tampil bagus bersama klub kota Milan, hingga akhirnya kontrak sang pemain di putus. Saat ini, Edgar Davids menjadi pelatih di klub divisi 2 Liga Inggris, Barnet.

Statistik karir ketika bersergam Milan-Juve-Inter:
 
  • Milan: 19 (caps), 0 (gol)
  • Juve: 159 (caps), 8 (gol)
  • Inter: 16 (caps), 0 (gol)
 4. Patrick Vieira

 Mengawali karirnya bersama AS Cannes, Patrick Vieira akhirnya diboyong AC Milan pada musim 1995/96. Sayangnya perjalanan karirnya bersama Rossoneri tidak begitu mulus. Kemudian Arsenal memberikan tawaran kepada Vieria dan memutuskan untuk bergabung ke Highbury. Bersama The Gunners, ia tampil luar biasa.

Juventus akhirnya berhasil mendapatkan jasa Vieira pada musim 2005/06. Bersama Emerson di lini tengah, pemain Prancis itu ikut berkontribusi besar memenangi Scudetto di musim pertamanya. Saya semua mimpi indah itu sirna setelah Juve terlibat dalam kasus Calciopoli, dan harus terdegradasi ke Serie B.

Rival Juventus, Inter akhirnya memanfaatkan situasi sulit yang dialami Bianconeri dengan mendatangkan Vieira ke Giuseppe Meazza. Bersama Inter, Vieira sukses meraih 3 gelar Scudetto dan Piala Super Italia. -- Hingga akhirnya ia memutuskan pensiun di tahun 2011, setelah semusim membela Manchester City.

Statistik karir ketika berseragam Milan-Juve-Inter:
 
  • Milan: 2 (caps), 0 (gol)
  • Juve: 31 (caps), 5 (gol)
  • Inter: 67 (caps), 6 (gol)
5. Cristian Vieri

 Juventus mendapatkan jasa Christian Vieri (muda) setelah tampil apik bersama Atalanta. Namun, kiprahnya bersama Juventus tak terbilang apik. Penyerang bertubuh gempal itu hanya melewati satu musim bersama La Vecchia Signora. Sebelum akhirnya pindah ke Atletico Madrid, dan membuat pengamat sepakbola kagum dengan aksi gemilangnya.

Setelah memutuskan kembali ke Italia untuk bergabung bersama Lazio, Vieri hanya bertahan satu musim di Olimpico Roma. Hingga akhirnya ia memilih untuk berseragam Biru-Hitam, Inter. Ia sukses mencetak 103 gol bersama Nerazzurri, namun ia tidak mampu mempersembahkan gelar selama 6 tahun perjalanan karirnya di Giuseppe Meazza.

Pada musim 2005/06, ia memutuskan bergabung dengan rival sekota Inter, AC Milan. Namun, kiprah Vieri bersama Milan tak sesukses ketika ia berseragam Biru-Hitam. Semusim berseragam Merah-Hitam, Vieri memutuskan hengkang, hingga akhirnya pensiun pada tahun 2009.

Statistik karir ketika berseragam Juve-Inter-Milan:
 
  • Juve: 23 (caps), 8 (gol)
  • Inter: 143 (caps), 103 (gol)
  • Milan: 8 (caps), 1 (gol)
6. Zlatan Ibrahimovic

 Performa gemilang Zlatan Ibrahimovic bersama Ajax Amsterdam membuat Juventus kepincut memakai jasanya di musim 2004/05. 2 tahun bersama Bianconeri, Ibra mendapatkan 2 Scudetto. Namun, gelar tersebut ditarik karena skandal Calciopoli yang melibatkan timnya. Juve harus turun ke Serie B, dan ia pun akhirnya memilih pindah ke rival abadi, Inter Milan.

Setelah berseragam Inter, Zlatan membuat kuping Juventini panas ketika ia mengaku adalah fans La Beneamata sejak kecil. Selama 3 musim berseragam Biru-Hitam, Ibra berhasil mempersembahkan 3 gelar scudetto dan 2 Piala Super Italia. Pada pertengahan tahun 2009, ia memutuskan bergabung bersama Barcelona FC. Sayang hubungan buruk dengan Pep Guardiola membuat penyerang Timnas Swedia itu harus angkat kaki ke AC Milan, setelah sukses memberikan 5 gelar selama 1 musim.

Ia akhirnya memilih bergabung dengan Rossoneri dengan status pemain pinjaman di musim 2010/11. Sebelum akhirnya pihak AC Milan mempermanenkan Ibra di musim 2011/12. Bersama Il Diavolo, ia sukses merengkuh gelar Scudetto dan Piala Super Italia. -- Kini pemain bertubuh tingi itu memilih PSG sebagai pelabuhan karirnya.

Statistik karir ketika berseragam Juve-Inter-Milan:
 
  • Juve: 70 (caps), 23 (gol)
  • Inter: 88 (caps), 57 (gol)
  • Milan: 61 (caps), 42 (gol)
7. Andrea Pirlo

 Mengawali karir bersama Brescia selama 3 tahun, Andrea Pirlo akhirnya memutuskan bergabung bersama Internazionale di musim 1998/99. Selama berseragam Biru-Hitam, Pirlo tampil mengecewakan. Hal ini membuatnya terasingkan, dan bergabung dengan Reggina, serta Brescia dengan status pemain pinjaman.

Melihat kiprah apik Pirlo bersama Roberto Baggio di Brescia, AC Milan langsung membajak sang pemain dari rival sekotanya. Bermain selama 10 tahun bersama Rossoneri, il Metronome berhasil mempersembahkan 9 gelar untuk klub yang bermarkas di San Siro tersebut. Namun, kehadiran Mark van Bommel di musim 2010/11, membuat ia terpinggirkan. Merasa kualitasnya sudah tak lagi dibutuhkan, ia memutuskan untuk bergabung dengan Juventus di tahun berikutnya.

Baru semusim berbaju Hitam-Putih, Pirlo mampu mengantarkan La Vecchia Signora kembali merengkuh Scudetto, setelah 6 tahun puasa gelar. Hingga saat ini, Pirlo masih bermain untuk Juve, dan terus membantu klub asal Turin itu mengembalikan nama besar klub.

Statistik karir ketika berseragam Inter-Milan-Juve:
 
  • Inter: 22 (caps), 0 (gol)
  • Milan: 284 (caps), 32 (gol)
  • Juve: 53 (caps), 7 (gol)


Real Madrid dan Barcelona klub terkaya di dunia tahun 2012


Real madrid dan Barcelona klub terkaya di dunia tahun 2012

Real madrid dan Barcelona klub terkaya di dunia tahun 2012
Real Madrid dan Barcelona


Dominasi Real Madrid dan Barcelona di sepak bola Eropa kian kokoh. Bukan hal nya dalam prestasi namun kedua tim bubuyutan tersebut mengungguli tim-tim raksasa Eropa lainnya dalam hal menghimpun kekayaan finansial.

Sebelumnya Real Madrid dan Barcelona juga telah mendominasi sepak bola Eropa dengan menyumbangkan pemainya dalam tim terbaik FIFA 2012 dan pemain terbaik Liga Champion Eropa 2012. Dan kali ini Dua klub Raksasa Sapnyol ini di nobatkan sebagai klub terkaya di dunia, mengunguli klub-klun raksasa lainnya yang berada di Inggris, Italia, Jerman, dan Prancis.

Menurut data yang dilansir lembaga audit independen Deloitte, yang disebut Football Money League, Kamis (24/1/2013), hanya kedua klub raksasa tersebut yang berhasil meraup pendapatan lebih dari 450 juta Euro (5,6 triliun Rupiah) selama tahun 2012.

Dalam data tersebut, Madrid ditempatkan sebagai klub terkaya menggeser Manchester United yang selalu bercokol di posisi klub terkaya selama delapan tahun belakangan.

Bahkan Los Blancos berhasil menjadi yang pertama dalam sejarah sebagai sebuah klub yang berhasil meraup penghasilan lebih dari 500 juta Euro hanya dalam setahun.

Madrid masih bisa mendapatkan pendapatan luar biasa besar pada musim lalu. Pendapatan klub ibu kota Spanyol itu mencapai 512,6 juta Euro, atau naik sebesar tujuh persen. Selain dari penjualan tiket pertandingan di Santiago Bernabeu, mereka mengisi pundi-pundi uangnya dari hak siar televisi dan sponsorship dari seluruh dunia.

"Ini merupakan capaian yang mengesankan bagi Real Madrid telah melampaui pendapatan 500 juta Euro hanya dalam dalam satu tahun. Real sungguh fenomenal mengungguli klub-klub top lainnya," ujar Direktur Urusan Olahraga Deloitte, Dan Jones seperti dinukil Goal.

Namun, sang juara bertahan La Liga itu dibuntuti oleh musuh bebuyutan mereka, Barcelona. Meski klub asal Katalan itu tak begitu sukses di musim 2011/12 namun mereka hanya kurang 17 juta Euro untuk melampaui angka 500 juta euro seperti yang ditorehkan Madrid.

Manchester United berada di peringkat ketiga. Kegagalan mereka di Liga Champions di 2011/12 yang menyebabkan dua klub Spanyol itu merangsek naik ke atas.

Selama lima tahun berturut-turut, klub-klub yang berada di posisi enam teratas di sepertinya tetap sama.

"Ini menekankan fakta bahwa klub-klub ini memiliki beberapa basis penggemar terbesar dan karenanya pendapatan terkuat, baik di pasar domestik dan internasional," komentar Jones.[yob]

Berikut ini daftara klub dengan pendapatan terbesar (dalam juta Euro):

1. Real Madrid (Spanyol) 512.6
2. Barcelona (Spanyol) 483
3. Manchester United (Inggris) 395.9
4. Bayern Munich (Jerman) 368.4
5. Chelsea (Inggris) 322.6
6. Arsenal (Inggris) 290.3
7. Manchester City (Inggris) 285.6
8. AC Milan (Italia) 256.9
9. Liverpool (Inggris) 233.2
10. Juventus (Italia) 195.4
11. Borussia Dortmund (Jerman) 189.1
12. Inter Milan (Italia) 185.9
13. Tottenham Hotspur (Inggris) 178.2
14. Schalke 04 (Jerman) 174.5
15. Napoli (Italia) 148.4
16. Olympique Marseille (Prancis) 135.7
17. Olympique Lyon (Prancis) 131.9
18. Hamburg SV (Jerman) 121.1
19. AS Roma (Italia) 115.9
20. Newcastle United (Inggris) 115.3


Link source : http://bola.inilah.com/read/detail/1950770/madrid-dan-barca-klub-terkaya-dunia



Liverpool Berambisi Rekrut Philipe Coutinho

Image: sport.it

You’ll Never Walk Alone – Liverpool kembali beraksi di transfer tengah musim kali ini. Setelah sebelumnya gagal mendapatkan Wesley Sneijder yang akhirnya lebih memilih hijrah dari Inter Milan ke Galatsaray, kali ini The Reds mengincar pemain Inter Milan lainnya, Philipe Coutinho. Walaupun Inter Milan menaikkan harga Philippe Coutinho dari 8 juta euro menjadi 15 juta euro, itu tidak membuat Manajer Liverpool, Brendan Rodgers patah arang.

Dana 8 juta pound atau setara Rp 122 miliar yang sudah disiapkan pihak Liverpool, tapi ditolak Inter akan ditingkatkan menjadi 10 juta pound atau sekitar Rp 155 miliar. Nerazzuri  pun kemungkinan bakal menerima tawaran itu karena mereka saat ini sedang dilanda masalah keuangan.

Inter Milan mendatangkan Coutinho dari Vasco da Gama pada 2010 lalu dengan nilai transfer senilai 4 juta euro. Saat itu, usianya baru 16 tahun. Namun, Coutinho baru bisa bermain untuk Inter ketika usianya genap 18 tahun.
 

ZOOM UNIK::UNIK DAN UNIK Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger