Warung Bebas

Kamis, 01 Oktober 2009

Khasiat Mengkudu


Kadar air buah Mengkudu sekitar 52 persen. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui elemen apa Baja yang terdapat di dalam Mengkudu. Studi dan penelitian tersebut telah menunjukkan adanya zat-zat menarik di dalam sari buah Mengkudu, meskipun belum semuanya teridentifikasi. Baru pada tahun 1993, seorang peneliti (Helen Sim), dalam tesis masternya yang berjudul The Isolation and Characterization of A Fluores­cent Compound From The Fruit of Morinda citrifolia: Stud­ies on 5-ht Receptor System melaporkan adanya zat-zat di dalam buah Mengkudu yang tidak dikenal oleh dia maupun teman-temannya. Sebagian besar zat-zat tersebut berhubungan dengan kesehatan dan telah dibuktikan hanya terdapat di dalam buah Mengkudu.

Berikut ini adalah manfaat-manfaat lainnya dari buah Mengkudu yang sudah terbukti secara ilmiah.
Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Penyelidikan klinis yang dilakukan oleh Dr. Schechter (Institut Pengobatan Alami di California) menghasilkan data-data penting tentang kemampuan sari buah Mengkudu, di antaranya yaitu merangsang produksi sel T dalam sistem kekebalan tubuh (sel T berperan penting dalam melawan penyakit); memperkuat sistem kekebalan tubuh, terutama makrofaset dan limfosit dari sel darah putih; menun­jukkan efek anti bakteri; mempunyai efek anti rasa sakit/nyeri (analgesik); menghambat pertumbuhan sel-sel pra kanker/tumor yaitu dengan kemampuannya menormalkan fungsi sel-sel yang abnormal.

Mona Harrison, MD dari Boston University School of Medicine dan direktur medis pada D.C. General Hospiial,USA melaporkan bahwa Mengkudu meningkatkan fungsi kelenjar tiroid dan kelenjar timus, yang dipercaya bertindak melawan infeksi dan masalah-masalah yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh.

Menormalkan Tekanan Darah

Menurut Neil Solomon, MD.PhD, peneliti masalah kesehatan dari Amerika melaporkan bahwa buah Mengkudu mengandung sejenis fitonutrien, yaitu scopoletin yang berfungsi untuk memperlebar saluran pembuluh darah yang mengalami penyempitan. Hal ini menyebabkan jantung tidak perlu bekerja terlalu keras untuk memompa darah, sehingga tekanan darah menjadi normal.

Hasil uji coba pada hewan menunjukkan bahwa scopoletin menurunkan tekanan darah tinggi dan normal menjadi rendah (hipotensi yang abnormal). Namun demikian, scopoletin yang terdapat dalam buah Mengkudu dapat berinteraksi sinergis dengan nutraceuticals (makanan yang berfungsi untuk pengobatan) lain untuk mengatur tekanan darah tinggi menjadi normal, tetapi tidak menurunkan tekanan darah yang sudah normal. Tidak pernah ditemukan kasus di mana tekanan darah normal turun hingga mengakibatkan tekanan darah rendah (hipotensi).

Para ahli dari Universitas Stanford, Universitas Hawaii, University of California (UCLA), Union Col­lege of London, Universitas of Meets di Perancis yang telah mempelajari Mengkudu setuju bahwa tanaman ini berperan menurunkan tekanan darah dalam banyak kasus.

Percobaan klinis sederhana yang dilakukan oleh Scott Gerson, MD (dari Mt. Sinai School of Medicine di New York) menunjukkan bahwa banyak pemakai Mengkudu melaporkan bahwa tekanan darah mereka menjadi tinggi bila berhenti minum sari buah Mengkudu, dan kembali normal bila mengkonsumsi sari buah Mengkudu secara teratur.

Melawan Tumor dan Kanker

Sebuah makalah menarik yang dihadirkan pada pertemuan tahunan American Association fin. Cancer Research ke-83 di San Diego, California, tahun 1992 adalah “Aktivitas Anti-tumor Morinda citrifolia pada Lewis Lung Carcinoma yang Disuntikkan pada Tikus.” Dalam penelitian ini, tikus-tikus percobaan diberi suntikan Lewis Lung Carcinoma aktif (sejenis kanker). Semua tikus yang tidak mendapatkan perawatan dengan Mengkudu mati dalam 9-12 hari akibat kanker. Sedangkan tikus-tikus yang mendapat perawatan dengan Mengkudu mampu bertahan hidup 105 persen hingga 123 persen lebih lama (40 persen dari tikus-tikus percobaan tersebut hidup hingga 50 hari atau lebih). Studi ini diulangi beberapa kali dan setiap kali Mengkudu terbukti secara signifikan memperpanjang umur-umur tikus yang terkena kanker dibanding dengan tikus-tikus yang tidak dirawat dengan Mengkudu. Singkatnya, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Mengkudu dapat menghambat pertumbuhan tumor.

Setahun kemudian jurnal Cancer Letters (vol.3, tahun 1993) melaporkan penemuan zat anti kanker/damnacanthal dalam ekstrak Mengkudu yang mampu menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.

Ada beberapa kasus pasien kanker yang mengkonsumsi sari buah Mengkudu dan menjadi sembuh, antara lain kasus pasien Dr. Harrison (D.C. General Hospital), yang menderita kanker hati dan pemhengkakan perut yang disebabkan oleh cairan yang berlebihan. Selama 7 hari mengkonsumsi sari Mengkudu, bengkak pada perutnya berkurang secara nyata. Pengujian haru terhadap cairan perutnya menunjukkan bahwa sel-sel kanker tersebut telah lenyap.

Menurut Dr. Judah Folkman dari Harvard University, Mengkudu bekerja sinergis dengan mikronutrien lain dalam menghamhat aliran darah yang menuju ke sel-sel tumor. Mekanismenya hampir sama dengan minyak squalen (dari hati ikan hiu) yang mengontrol pertumbuhan tumor otak dan memperpanjang usia tikus eksperimen dengan merusak alat-alat peredaran yang mensuplai darah menuju ke sel-sel tumor.
Menghilangkan Rasa Sakit

Kemampuan buah Mengkudu sebagai zat analgesik telah dikenal dalam sejarah pengobatan tradisional, sehingga tanaman ini disebut “painkiller tree” atau “headache tree”. Riset-riset ilmiah telah membuktikan efek menguntungkan dari Mengkudu untuk mengatasi rasa sakit. Pada tahun 1990, para peneliti menemukan adanya hubungan yang signifikan antara dosis ekstrak sari buah Mengkudu dengan aktifitas analgesik tikus­tikus percobaan (umumnya, semakin banyak digunakan, efek analgesiknya akan semakin kuat).

Banyak teori yang menjelaskan tentang bagaimana mekanisme kerja Mengkudu menghilangkan rasa sakit. Salah satunya adalah teori Dr. Ralph Heinicke (ahli biokimia terkenal dari AS) yang mengatakan bahwa xeronine-lah yang berperan dalam menghilangkan rasa sakit. Hal ini dikaitkan dengan kemampuan xeronine menormalkan protein pada sel-sel yang abnormal, termasuk sel-sel jaringan otak, tempat berasalnya rasa sakit.

Beberapa kasus rasa sakit yang kronis seperti sakit kepala terus menerus, rasa sakit pada otot saraf dan nyeri sendi disembuhkan setelah mengkonsumsi sari buah Mengkudu.
Anti-peradangan dan Anti-alergi

Senyawa scopoletin (hidroksi-metoksi-kumarin) sangat efektif sebagai zat anti-radang dan anti-alergi. Literatur-literatur kedokteran melaporkan keberhasilan pengobatan pada arthritis, bursitis, car-pal tunnel syndrome dan alergi dengan menggunakan scopoletin.

Bryant Bloss, MD, ahli ortopedi dari Indiana, AS melaporkan keberhasilan sari buah Mengkudu menyembuhkan sakit punggung yang dialaminya dan juga 15 orang pasiennya. Sementara itu, 8 orang pasiennya melaporkan bahwa sakit lutut (osteoarthritis) hampir tidak terasa selama mengkonsumsi sari buah Mengkudu. Tiga dari pasien Dr. Bloss yang menderita asma mengalami kemajuan dengan semakin berkurangnya batuk. Beberapa pasien yang mengalami radang sendi juga mulai mengalami kemajuan secara nyata setelah minum sari buah Mengkudu. Beliau menawarkan sari buah Mengkudu sebagai makanan tambahan/suplemen, dan bukan sebagai obat kepada para pasiennya.
Anti-bakteri

Hasil penelitian yang dimuat darn jurnal Pacific Science (vo1.4, tahun 1950) melaporkan bahma Mengkudu mengandung bahan anti bakteri yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit jantung masalah pencernaan. Senyawa antraquinon yang banyak terdapat pada akar Mengkudu ternyata dapat melawan bakteri Staphylococcus yang menyehabkan infeksi pada jantung dan bakteri Shigella yang menyebabkan disentri.

Mengkudu bersifat anti bakteri terhadap: Bacil­lus subtilis, Escherichicr coli, Proteus morganii, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella montevdleo, Salmonella schotmuelleri, Salmonella typhi, Shigella dysenteriae, Shigella flexnerii, Shigella paraciysente­riae BH und III-Z, Staphylococcus aureus.

Dr. Robert Young, ahli mikrobiologi dari Utah, USA menemukan yeast molds dan jamur beserta racun yang dihasilkannya dapat menyehabkan sel-sel sakit karena derajat keasamannya (pH) meningkat. Dengan mengkonsumsi sari buah Mengkudu, keadaan tersebut dapat diatasi karena Mengkudu membantu mengatur keseimbangan pH tubuh, sehingga meningkatkan kernampuan tubuh menyerap vitamin-vitamin, mineral dan protein.

Mengatur Siklus Suasana Hati (Mood)

Salah satu kemampuan lain yang dimiliki oleh seopoletin adalah dapat mengikat serotonin. Menurut Dr. Harrison (DC.General Hospital, USA) scopoletin dapat meningkatkan kegiatan kelenjar peneal yang terdapat di dalam otak, yang merupakan tempat dimana serotonin diproduksi dan kemudian digunakan untuk menghasilkan hormon melatonin. Serotonin adalah salah satu zat penting di dalam butiran darah (trombosit) manusia yang melapisi saluran pencernaan dan otak.

Di dalarn otak, serotonin berperan sebagai neutrotrcrnsmitter, penghantar sinyal saran dan prekursor hormon melatonin. Sero­tonin dan melatonin membantu mengatur beberapa kegiatan tubuh seperti tidur, regulasi suhu badan, suasana hati (mood), masa pubertas dan siklus produksi sel telur, rasa lapar dan perilaku seksual. Kekurangan serotonin dalam tubuh dapat mengakibatkan penyakit migrain, pusing, depresi, bahkan juga penyakit Alzheimer.

Mengatur Siklus Energi Tubuh

Dr. Harrison juga melaporkan bahwa perubahan frekuensi energi tubuh juga disebabkan oleh kegiatan positif sari buah Mengkudu. Efek yang ditimbulkan antara lain; dapat menstabilkan gula darah, mengurangi rasa sakit waktu menstruasi, mengurangi keinginan buang air kecil pada malam hari untuk pria yang mengalami pembengkakan prostat.

Menurut Dr. Heinicke (ahli biokimia dari AS), xeronine juga turut berperan dalam proses siklus energi tubuh. Ia menjelaskan mekanismenya sebagai berikut, xeronine akan diserap pada tempat yang berdekatan dengan tempat penyerapan endorphin dan bertindak sebagai prekursor hormon (co-hormone) untuk mengaktifkan protein reseptor yang memberikan perasaan enak/nyaman. Akibatnya orang akan merasa enak dan memiliki banyak energi setelah mengkonsumsi sari buah Mengkudu.

Khasiat Utama

Riset tentang Mengkudu terus berkembang, baik dilakukan oleh para dokter maupun ahli botani dan ahli biokimia. Penelitian difokuskan pada komponen­komponen/susunan kimia yang dikandung Mengkudu dan efek terapetiknya terhadap berbagai macam penyakit.

Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa sari buah Mengkudu dapat merangsang sistem kekebalan tubuh, mengatur fungsi sel dan regenerasi sel-sel jaringan tubuh yang rusak. Fakta yang menunjukkan bahwa Mengkudu dapat mengatur sel-sel pada tingkat dasar dan kritis itu mungkin dapat menjelaskan mengapa Mengkudu dapat digunakan untuk berbagai macam kondisi kesehatan.

Para dokter di Amerika sudah memberikan banyak laporan tentang keberhasilan penggunaan sari buah Mengkudu terhadap pasien-pasiennya. Dr. Richard Dicks (dari New Jersey, USA) mengatakan, “kami mulai menyadari bahwa kita harus kembali pada hal yang mendasar dari tubuh kita. Apa yang dimaksud dengan metabolisme dalam tubuh adalah membakar nutrisi. Sari buah Mengkudu melindungi tubuh kita dengan memberi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.”
Khasiat-khasiat Tambahan

Mengkudu memiliki khasiat-khasiat lain yang belum dibuktikan secara medis, namun secara empiris telah banyak orang yang mengalami perbaikan dan peningkatan kesehatan setelah mengkonsumsi sari buahnya. Beberapa problem kesehatan yang dapat diatasi dengan menggunakan Mengkudu:

* Sistem pencernaan: Perut kembung, luka pada usus halus, radang lambung, muntah-muntah dan keracunan makanan.
* Sistem pernapasan: Batuk,bronchitis, sakit tenggorokan, TBC, kolera, demam pada bayi, sinusitis, asma.
* Sistem kardiovaskular: Kolesterol tinggi, penebalan otot jantung, meningkatkan transportasi oksigen di dalam sel.
* Penyakit kulit: Luka bakar, luka, kudis, bisul, selulit, cacing kulit, ketombe, kurap, dan radang pada kulit, borok pada kulit, dan masalah-masalah pada kulit lainnya.
* Mulut dan tenggorokan: Radang tenggorokan, gusi berdarah, batuk, sariawan, sakit gigi.
* Gangguan menstruasi: Sindrom pramenstruasi, siklus haid yang tidak teratur, nyeri pada waktu haid.
* Awet muda: Sari buah Mengkudu dapat digunakan sebagai tonik untuk mengatasi keriput akibat proses penuaan.
* Penyakit-penyakit dalam tubuh: Diabetis, hepatitis kronis, sakit pinggul, sakit kepala, gangguan fungsi ginjal, kencing batu, ganguan pada hormon tiroid.
* Defisiensi daya tahan tubuh: Penyakit virus Epstein-Barr, candidiasis kronis, penyakit akibat infeksi virus HIV, kekurangan tenaga (AES=altered energy syndrome).

Mengapa satu jenis tumbuhan dapat menyembuhkan begitu banyak jenis penyakit?

Riset ilmiah menunjukkan bahwa konstituen-konstituen di dalam buah Mengkudu memiliki khasiat untuk merangsang respon pembentukan kekebalan tubuh, membersihkan darah, mengatur fungsi sel, regenerasi sel rusak dan menghambat pertumbuhan tumor. Fitokimia (zat-zat kimia alami yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan) memiliki khasiat untuk pencegahan penyakit dan kaya akan kandungan antioksidan. Mengkudu memiliki spektrum fitokimia yang sangat luas, beberapa diantaranya hanya terdapat di dalam Mengkudu. Fitokimia-fitokimia tersebut bersinergi satu dengan yang lain untuk menghasilkan khasiat penyembuhan yang mengagumkan.

sumber : http://www.deherba.com/khasiat-mengkudu.html


NB: SehatHerbal.Com menyediakan ektrak Mengkudu, harga 75rb/50 kapsul, pemesanan 081310343598 atau budiprakoso98@gmail.com

friday, friday.





don't you love that it is actually feeling like fall now! well, at least for the morning hours. which means here in the south, you can actually wear jeans and not die when you walk outside! i hope y'all have a wonderful weekend....off to clean, again....

Rabu, 30 September 2009

yard sales and discounts stores....





so if you don't go to yard sales, you are just missing out. now i am not going to lie and say i totally love going. and if you had been with us last weekend when we went, i would have sworn that i would never go back. but, you have to take the good w/ the bad- and when it is bad, it's REAL bad (last week happen to fall in this category). but i am constantly reminded why it is good. for example, this awesome Pottery Barn puppet theater/ lemonade stand. this is something i would have never bought for full price but when GiGi spied it at a yard sale, it was a must have... especially w/ the price tag of $10. i cannot tell you how much fun taylor and my mom have had putting on puppet shows....which brings me to my next subject: discount stores. we all go to TJ and Marshalls but when was the last time you went to Big Lots (i have no idea the last time i was there)...but my parents were wasting time while their dog was getting groomed and stopped in. and guess who they ran into....Martha. now do you think martha stewart is dying knowing that her line is now at a discount store? well, they scored these adorable puppets for $2. i happen to be on the phone w/ mom while she was there and i asked if they had the tissue pom poms and they did....again $2. i want to put them over taylor's bed (a quick, inexpensive way to add something interesting to her room). so think yard sales and discount stores the next time your child is bored....you just never know what you are going to score!!
*oh and i couldn't help but include a pic of taylor playing at the computer last night....notice anything missing...her mullet! i got her haircut for the first time last week...major improvement :)

Selasa, 29 September 2009

Malocclusion: Disease of Civilization

In his epic work Nutrition and Physical Degeneration, Dr. Weston Price documented the abnormal dental development and susceptibility to tooth decay that accompanied the adoption of modern foods in a number of different cultures throughout the world. Although he quantified changes in cavity prevalence (sometimes finding increases as large as 1,000-fold), all we have are Price's anecdotes describing the crooked teeth, narrow arches and "dished" faces these cultures developed as they modernized.

Price published the first edition of his book in 1939. Fortunately,
Nutrition and Physical Degeneration wasn't the last word on the matter. Anthropologists and archaeologists have been extending Price's findings throughout the 20th century. My favorite is Dr. Robert S. Corruccini, currently a professor of anthropology at Southern Illinois University. He published a landmark paper in 1984 titled "An Epidemiologic Transition in Dental Occlusion in World Populations" that will be our starting point for a discussion of how diet and lifestyle factors affect the development of the teeth, skull and jaw (Am J. Orthod. 86(5):419)*.

First, some background. The word
occlusion refers to the manner in which the top and bottom sets of teeth come together, determined in part by the alignment between the upper jaw (maxilla) and lower jaw (mandible). There are three general categories:
  • Class I occlusion: considered "ideal". The bottom incisors (front teeth) fit just behind the top incisors.
  • Class II occlusion: "overbite." The bottom incisors are too far behind the top incisors. The mandible may appear small.
  • Class III occlusion: "underbite." The bottom incisors are beyond the top incisors. The mandible protrudes.
Malocclusion means the teeth do not come together in a way that's considered ideal. The term "class I malocclusion" is sometimes used to describe crowded incisors when the jaws are aligning properly.

Over the course of the next several posts, I'll give an overview of the extensive literature showing that hunter-gatherers past and present have excellent occlusion, subsistence agriculturalists generally have good occlusion, and the adoption of modern foodways directly causes the crooked teeth, narrow arches and/or crowded third molars (wisdom teeth) that affect the majority of people in industrialized nations. I believe this process also affects the development of the rest of the skull, including the face and sinuses.


In his 1984 paper, Dr. Corruccini reviewed data from a number of cultures whose occlusion has been studied in detail. Most of these cultures were observed by Dr. Corruccini personally. He compared two sets of cultures: those that adhere to a traditional style of life and those that have adopted industrial foodways. For several of the cultures he studied, he compared it to another that was genetically similar. For example, the older generation of Pima indians vs. the younger generation, and rural vs. urban Punjabis. He also included data from archaeological sites and nonhuman primates. Wild animals, including nonhuman primates, almost invariably show perfect occlusion.

The last graph in the paper is the most telling. He compiled all the occlusion data into a single number called the "treatment priority index" (TPI). This is a number that represents the overall need for orthodontic treatment. A TPI of 4 or greater indicates malocclusion (the cutoff point is subjective and depends somewhat on aesthetic considerations). Here's the graph: Every single urban/industrial culture has an average TPI of greater than 4, while all the non-industrial or less industrial cultures have an average TPI below 4. This means that in industrial cultures, the average person requires orthodontic treatment to achieve good occlusion, whereas most people in more traditionally-living cultures naturally have good occlusion.

The best occlusion was in the New Britain sample, a precontact Melanesian hunter-gatherer group studied from archaeological remains. The next best occlusion was in the Libben and Dickson groups, who were early Native American agriculturalists. The Pima represent the older generation of Native Americans that was raised on a somewhat traditional agricultural diet, vs. the younger generation raised on processed reservation foods. The Chinese samples are immigrants and their descendants in Liverpool. The Punjabis represent urban vs. rural youths in Northern India. The Kentucky samples represent a traditionally-living Appalachian community, older generation vs. processed food-eating offspring. The "early black" and "black youths" samples represent older and younger generations of African-Americans in the Cleveland and St. Louis area. The "white parents/youths" sample represents different generations of American Caucasians.


The point is clear: there's something about industrialization that causes malocclusion. It's not genetic; it's a result of changes in diet and/or lifestyle. A "disease of civilization". I use that phrase loosely, because malocclusion isn't really a disease, and some cultures that qualify as civilizations retain traditional foodways and relatively good teeth. Nevertheless, it's a time-honored phrase that encompasses the wide array of health problems that occur when humans stray too far from their ecological niche.
I'm going to let Dr. Corruccini wrap this post up for me:
I assert that these results serve to modify two widespread generalizations: that imperfect occlusion is not necessarily abnormal, and that prevalence of malocclusion is genetically controlled so that preventive therapy in the strict sense is not possible. Cross-cultural data dispel the notion that considerable occlusal variation [malocclusion] is inevitable or normal. Rather, it is an aberrancy of modern urbanized populations. Furthermore, the transition from predominantly good to predominantly bad occlusion repeatedly occurs within one or two generations' time in these (and other) populations, weakening arguments that explain high malocclusion prevalence genetically.

* This paper is worth reading if you get the chance. It should have been a seminal paper in the field of preventive orthodontics, which could have largely replaced conventional orthodontics by now. Dr. Corruccini is the clearest thinker on this subject I've encountered so far.

carefree...



these pictures make me want to be a kid again! i love the yellow thrown in there w/ pink...
speaking of kids- please keep your fingers crossed that mine doesn't get kicked out of school today....i have so much i need to do!! have a fabulous tuesday.

* images courtesy of ciao tay, maree homer, glam lamb
 

ZOOM UNIK::UNIK DAN UNIK Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger