Warung Bebas

Minggu, 25 Oktober 2009


Kopi Memperlambat Penyebaran Penyakit Liver

Nurul Ulfah - detikHealth


Washington, Setelah terbukti meningkatkan kemampuan otak, membunuh bakteri di mulut dan mencegah infeksi saluran kemih, peneliti menemukan satu lagi manfaat kopi. Kopi terbukti bisa memperlambat penyebaran penyakit liver atau hepatitis C.

Sebanyak 766 pasien penyakit liver (hepatitis C) dilibatkan dalam studi tersebut. Mereka diminta peneliti untuk mengonsumsi kopi, teh hijau dan teh hitam. Selama 4 tahun studi, pasien pun dimonitor keadaannya setiap 3 bulan sekali. Biopsi liver diambil pada bulan ke-18 dan tahun ke 3,5 untuk mengetahui progres dari penyakit liver.

Setelah studi selesai, peneliti menarik kesimpulan bahwa pasien yang minum tiga gelas kopi tiap harinya bisa memperlambat penyebaran penyakit liver hingga 53 persen. Sementara itu, teh hijau dan teh hitam justru tidak memiliki efek apa-apa. Hasil penemuan ini rencananya akan dipublikasikan dalam Journal Hepatology bulan November mendatang.

"Memberikan kopi pada penderita hepatitis C dalam jumlah banyak ternyata bisa memperpanjang umur seseorang yang sudah memiliki penyakit hepatitis C kronis. Namun faktor lain seperti obat-obatan juga sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan," jelas Neal Freedman dari U.S. National Cancer Institute seperti dikutip dari Healthday, Senin (26/10/2009).

Saat ini, virus hepatitis C atau Hepatitis-C Virus (HCV) menginfeksi sekitar 3 juta warga Amerika. Virus ganas ini berkembang tanpa ada ciri-ciri yang terdeteksi, sehingga sering disebut sebagai silent killer. Berdasarkan US Centers for Disease Control and Prevention, sekitar 8.000 hingga 10.000 orang pun meninggal dunia tiap tahunnya.

Di Indonesia sendiri diperkirakan ada 7 juta orang yang mengidap virus ini, namun hingga kini belum ada vaksin yang bisa mencegah penularannya karena sifat virusnya yang sangat mudah bermutasi.

Kamis, 22 Oktober 2009

Jumat, 23/10/2009 09:14 WIB
Kopi, Teh dan Anggur Cegah Infeksi Saluran Kemih

Nurul Ulfah - detikHealth


Jakarta, Kabar baik bagi orang yang suka minum kopi, teh dan anggur. Pakar kesehatan mengatakan minuman itu bisa mencegah infeksi saluran kemih. Sedangkan jus apel tidak baik untuk urin.

Beruntung pula bagi pria, karena kelenjar prostat yang terdapat di alat kelaminnya adalah benteng pertahanan masuknya bakteri di saluran kemih.

Hal itu disampaikan oleh Dr. dr. Parlindungan Siregar SpPD.KGH, dalam acara seminar 'Waspadai Efek Dehidrasi Terhadap Kesehatan di Hotel Akmani, Jakarta, Kemis (22/10/2009).

"Kopi, wine, teh, dan minuman teh atau jus sitrus bisa meningkatkan ekskresi (pengeluaran) urin. Dan ekskresi yang tinggi bisa mencegah infeksi saluran kemih," ujar Parlindungan.

Menurutnya, kopi bisa mencegah dan mengurangi batu kantung kemih sebanyak 10 persen, teh 14 persen dan anggur 39 persen.

Parlindungan menjelaskan, ketika ekskresi meningkat, regulasi osmotik dalam tubuh pun akan meningkat. Hormon ADH (Anti Diuretik) lalu akan menurun dan membuat volume urin meningkat.

"Ketika volume urin meningkat, kemampuan antibakteri dalam saluran kemih pun meningkat, dan penyakit batu kantung kemih pun bisa dicegah," jelasnya.

Dijelaskan, urin yang bagus adalah yang warnanya kuning transparan hampir putih, pH netral dan tidak berbau. Harusnya dalam 24 jam, urin dalam tubuh keluar sebanyak 2 liter.

"Jadi, untuk mengeluarkan urin sebanyak itu, tubuh seharusnya minum air lebih banyak lagi dari 2 liter," ujar Parlindungan.

Selain kopi, teh atau wine, minuman lain yang menurut Parlindungan baik untuk mencegah infeksi saluran kemih adalah bir.

"Minum bir juga bagus, tapi ada kontraindikasinya, yaitu meningkatkan asam urat," jelas dokter spesialis penyakit dalam di RSCM itu.

Ada minuman yang baik, ada juga yang sebaiknya dihindari. Menurut studi yang dilakukan Parlindungan, ternyata jus apel tidak baik untuk urin.

"Meskipun apel punya kandungan vitamin yang baik, tapi ternyata bisa meningkatkan risiko batu hingga 35 persen," jelas Parlindungan.

Fakta lainnya yang dibeberkan Parlindungan adalah soal risiko terkena batu ginjal antara pria dan wanita, yang ternyata lebih banyak dialami wanita.

"Saluran uretra pria lebih panjang daripada wanita. Pria juga punya kelenjar prostat, yang ternyata bisa mengeluarkan zat antibiotik untuk melawan infeksi bakteri. Dua perbedaan itu membuat pria lebih sedikit terkena infeksi saluran kemih. Beruntunglah jadi pria," jelas Parlindungan.

Infeksi saluran kemih bisa membuat fungsi ginjal berkurang, rasa sakit setelah kencing dan juga batu ginjal.

"Kalau wanita sudah ada gejala sakit setelah kencing, harus segera diperiksakan. Dan kalau pria juga mengalami itu, hati-hati bisa jadi pertanda kanker prostat," tuturnya.

Untuk itu, membiasakan diri minum air putih 2-3 liter sehari atau sekitar 8-10 gelas (ukuran gelas 250 ml) setiap hari bisa mengurangi risiko infeksi saluran kantung kemih.

"Tapi untuk orang lanjut usia justru sebaliknya ya. Jangan sering-sering minum air, cukup 1,5 liter saja sehari," ucap Parlindungan.

Kelebihan air pada orang lanjut usia ternyata bisa membuat natrium dalam tubuhnya berkurang dan mengalami gejala yang disebut Hiponatrium. Ketika natrium berkurang, tubuh menjadi lemas dan ngantuk.

"Biasanya kalau orang ngantuk atau lemas, apalagi orang tua, gampang kesandung dan akibatnya bisa patah tulang," paparnya.

(fah/ir)

Rabu, 21 Oktober 2009

good morning.



i'd love to walk down those stairs, plop on that amazing settee (only i don't know if barron could sit on it- he'd take up the entire thing), and wait for an incredible breakfast to appear in that beautiful kitchen....hey, remember i'm a dreamer......

Butter vs. Margarine

I came across an interesting study the other day, courtesy of Dr. John Briffa's blog. It's titled "Margarine Intake and Subsequent Coronary Heart Disease in Men", by Dr. William P. Castelli's group. It followed participants of the Framingham Heart study for 20 years, and recorded heart attack incidence*. Keep in mind that 20 years is an unusually long follow-up period.

The really cool thing about this study is they also tracked butter consumption.  Here's a graph of the overall results, by teaspoons of butter or margarine eaten per day:

Heart attack incidence increased with increasing margarine consumption (statistically significant) and decreased slightly with increasing butter consumption (not statistically significant). 

It gets more interesting. Let's have a look at some of the participant characteristics, broken down by margarine consumption:

People who ate the least margarine had the highest prevalence of glucose intolerance (pre-diabetes), smoked the most cigarettes, drank the most alcohol, and ate the most saturated fat and butter. These were the people who cared the least about their health. Yet they had the fewest heart attacks. The investigators corrected for the factors listed above in their assessment of the contribution of margarine to disease risk, however, the fact remains that the group eating the least margarine was the least health conscious. This affects disease risk in many ways, measurable or not. I've written about that before, here and here.

The investigators broke down the data into two halves: the first ten years, and the second ten. In the first ten years, there was no significant association between margarine intake and heart attack incidence. In the second ten, the group eating the most margarine had 77% more heart attacks than the group eating none:

So it appears that margarine takes a while to work its magic.

They didn't publish a breakdown of heart attack incidence with butter consumption over the two periods. The Framingham study fits in perfectly with most other observational studies showing that full-fat dairy intake is not associated with heart attack and stroke risk. 


It's worth mentioning that this study was conducted from the late 1960s until the late 1980s. Artificial trans fat labeling laws were still decades away in the U.S., and margarine contained more trans fat than it does today. Currently, margarine can contain up to 0.5 grams of trans fat per serving and still be labeled "0 g trans fat" in the U.S. The high trans fat content of the older margarines probably had something to do with the result of this study.

That does not make today's margarine healthy, however. Margarine remains an industrially processed pseudo-food. I'm just waiting for the next study showing that some ingredient in the new margarines (plant sterols? dihydro vitamin K1?) is the new trans fat.

Butter, Margarine and Heart Disease
The Coronary Heart Disease Epidemic


* More precisely, "coronary heart disease events", which includes infarction, sudden cardiac death, angina, and coronary insufficiency.

Selasa, 20 Oktober 2009


i have been told this a time or two....and i kind of like that about myself. so are you a realist or a dreamer?
 

ZOOM UNIK::UNIK DAN UNIK Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger