Warung Bebas

Minggu, 19 September 2010

Potatoes and Human Health, Part I

Potatoes: an Introduction

Over 10,000 years ago, on the shores of lake Titicaca in what is now Peru, a culture began to cultivate a species of wild potato, Solanum tuberosum. They gradually transformed it into a plant that efficiently produces roundish starchy tubers, in a variety of strains that suited the climactic and gastronomic needs of various populations. These early farmers could not have understood at the time that the plant they were selecting would become the most productive crop in the world*, and eventually feed billions of people around the globe.

Wild potatoes, which were likely consumed by hunter-gatherers before domestication, are higher in toxic glycoalkaloids. These are defensive compounds that protect against insects, infections and... hungry animals. Early farmers selected varieties that are low in bitter glycoalkaloids, which are the ancestors of most modern potatoes, however they didn't abandon the high-glycoalkaloid varieties. These were hardier and more tolerant of high altitudes, cold temperatures and pests. Cultures living high in the Andes developed a method to take advantage of these hardy but toxic potatoes, as well as their own harsh climate: they invented chuños. These are made by leaving potatoes out in the open, where they are frozen at night, stomped underfoot and dried in the sun for many days**. What results is a dried potato with a low glycoalkaloid content that can be stored for a year or more.

Nutritional Qualities

From a nutritional standpoint, potatoes are a mixed bag. On one hand, if I had to pick a single food to eat exclusively for a while, potatoes would be high on the list. One reason is that they contain an adequate amount of complete protein, meaning they don't have to be mixed with another protein source as with grains and legumes. Another reason is that a number of cultures throughout history have successfully relied on the potato as their principal source of calories, and several continue to do so. A third reason is that they're eaten in an unrefined, fresh state.

Potatoes contain an adequate amount of many essential minerals, and due to their low phytic acid content (1), the minerals they contain are well absorbed. They're rich in magnesium and copper, two minerals that are important for insulin sensitivity and cardiovascular health (2, 3). They're also high in potassium and vitamin C. Overall, they have a micronutrient content that compares favorably with other starchy root vegetables such as taro and cassava (4, 5, 6). Due to their very low fat content, potatoes contain virtually no omega-6, and thus do not contribute to an excess of these essential fatty acids.

On the other hand, I don't have to eat potatoes exclusively, so what do they have to offer a mixed diet? They have a high glycemic index, which means they raise blood sugar more than an equivalent serving of most carbohydrate foods, although I'm not convinced that's a problem in people with good blood sugar control (7, 8). They're low-ish in fiber, which could hypothetically lead to a reduction in the number and diversity of gut bacteria in the absence of other fiber sources. Sweet potatoes, an unrelated species, contain more micronutrients and fiber, and have been a central food source for healthy cultures (9). However, the main reasons temperate-climate cultures throughout the world eat potatoes is they yield well, they're easily digested, they fill you up and they taste good.

In the next post, I'll delve into the biology and toxicology of potato glycoalkaloids, and review some animal data. In further posts, I'll address the most important question of all: what happens when a person eats mostly potatoes... for months, years, and generations?


* In terms of calories produced per acre.

** A simplified description. The process can actually be rather involved, with several different drying, stomping and leaching steps.

Sabtu, 18 September 2010

Academic titles for women, take two!

A male colleague and I once wrote a paper for a journal. I was first author, he was second author. We are both (still) PhD students, though he is perhaps slightly closer to finishing than I am. We mutually agreed he would be second author because I did the lion's share of the idea generation, research, paper writing, etc. Our websites both clearly indicate we are PhD students, as do our bios in the article.

Recently, one of the journal's editors contacted each of us individually to review a newly submitted article.

Here's the invitation to me:
Dear Ms. Ada Lovelace,
The following paper has been submitted for publication at Our Fantabulous Journal. Can you review it?
Thank you,
Journal Editor
Yet, here is the invitation to my fellow grad student:
Dear Dr. Charles Babbage, 
The following paper has been submitted for publication at Our Fantabulous Journal. Can you review it?
Thank you,
Journal Editor
I am intrigued. Why am I a "Ms." but he's a "Dr."? Is this one of those cases where the editor saw my colleague's name as second author and assumed he was the "senior author"? Even still, for a two-author publication, I'm not sure one can automatically assume the first author is PhD-less and the second author is PhD-full.

I guess this is better than the editor assuming I'm male.

Funny thing, though - a different (female) editor at the journal recently corresponded with us on another matter, and addressed me as "Professor Lovelace," and didn't address my co-author at all. We both found this highly amusing.

Jumat, 17 September 2010

gotta love the dot.




have a happy weekend . dot . dot . dot .

Kamis, 16 September 2010

Mengenal Wasir dan Faktor Pemicunya

JAKARTA – Mereka yang menghabiskan waktu seharian dengan duduk lama harus waspada. Terlebih lagi kalau mereka ini hanya mengonsumsi sedikit air dan sayuran. Bukan apa-apa, kalangan inilah yang berpotensi besar terserang penyakit wasir atau ambeien.

Menurut Dr. Sutanto Gandakusuma, Ahli Bedah Rumah Sakit (RS) Husada, Jakarta, hampir 70 persen manusia dewasa mempunyai wasir, baik wasir dalam, wasir luar maupun keduanya. Namun tidak semua penderita wasir ini memerlukan pengobatan. Hanya sebagian kecil saja yang memerlukan pertolongan medis, yakni mereka yang mengeluhkan pendarahan, adanya tonjolan dan gatal-gatal.
”Penyebab wasir sebenarnya sederhana, yakni saat susah buang air dipaksakan mengeluarkan kotoran,” ujar Sutanto dalam sebuah seminar mengenai wasir di RS Husada, Jakarta, akhir pekan silam. Penyebab susah buang air ini adalah kurang minum, kurang makan serat, kurang olah raga atau banyak duduk dan mengangkat yang berat-berat.
Solusi penyakit ini sebenarnya cukup gampang, yakni mengubah pola hidup. Bagi mereka yang dalam profesinya banyak duduk seperti sekretaris atau supir disarankan melakukan gerakan-gerakan lain, bukan hanya duduk saja. Karena itu, menurut Sutanto, waktu istirahat alias coffe break sangat penting dimanfaatkan.

Prosedur Pengobatan
Namun kalau sudah telanjur terserang wasir, apa boleh buat, harus segera menjalani terapi yang diberikan ahli medis. Pada stadium wasir ringan, dokter akan memberi obat-obatan jenis phlebodinamic seperti ardium dan daflon atau memberi salep. Tujuannya tak lebih adalah melancarkan sirkulasi darah di daerah anus dan menghilangkan tonjolan, bengkak dan pendarahan.
Salep bertujuan mengurangi sakit, bengkak dan mencegah infeksi. Apabila kondisi tidak juga membaik maka disarankan kembali ke dokter. Menurut Sutanto, dengan ke dokter maka akan bisa dipastikan bahwa penyakit ini memang benar wasir, bukan penyakit yang lebih serius seperti kanker.
”Tidak semua pendarahan dari dubur adalah hemorhoid atau wasir,” jelas Dr. Lie Agustinus Dharmawan, Kepala bagian Bedah RS Husada dalam kesempatan serupa. ”Setiap pendarahan dari dubur harus ditanggapi serius.” Bisa saja pendarahan ini berasal dari saluran cerna seperti usus halus, usus besar, mulut, kerongkongan dan lain-lain. Bila pendarahan berasal dari sini maka bisa saja disebabkan oleh tukak lambung, kerusakan pembuluh darah, kanker dan sejenisnya.
Untuk memastikan adanya kelainan-kelainan ini perlu diadakan diagnosa, mengetahui riwayat penyakit, inspeksi serta penginderaan melalui endoskopi dan angiografi.
Setelah dipastikan bahwa seorang pasien memang menderita wasir maka dokter bisa mengambil tindakan seperti penyuntikan. Tindakan lain adalah ligasi atau pencekikan wasir dengan gelang karet.
Dengan dicekiknya wasir tersebut maka wasir akan mati dan rontok. Menurut Sutanto, tindakan ini tepat untuk wasir yang berada di dalam dan berukuran agak besar. Jika pasien atau dokter sama-sama bersedia melakukan prosedur operasi, maka bisa dilakukan operasi.
Baru-baru ini telah dikembangkan alat operasi baru yakni stapler yang dapat memotong dan menjahit sekaligus usus di atas wasirnya, sehingga wasir secara otomatis terangkat ke atas. Tindakan ini hanya untuk wasir dalam saja. Keuntungan pemakaian stapler adalah penderita sama sekali tidak merasakan nyeri.
Makanan Berserat
Walau bisa diatasi, tentu saja tidak seorang pun bersedia mengalami pelbagai tindakan ”mengerikan” seperti ini. Ada baiknya jauh-jauh hari, di saat kondisi masih normal, orang menghindari faktor penyebab wasir.
Sebenarnya, apa faktor terbesar dari pemicu wasir? Menurut Dr. Ekky M. Rahardja, Unit Gizi Medik instalasi Gizi RS Husada, wasir kerap dihubungkan dengan kelemahan bawaan dinding vena, penekanan oleh rahim selama kehamilan, dan terhambatnya aliran darah vena oleh kontraksi otot dinding rektum selama buang air besar.
Karena itu, mereka yang punya keluhan sulit buang air besar biasanya diikuti dengan gejala wasir. Solusi satu-satunya adalah mengubah pola makan dari rendah serat ke makanan kaya serat.
Serat makanan adalah substansi makanan berasal dari nabati yang tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan manusia. Substansi tersebut berasal dari dinding sel atau bagian lain.
Meski tidak tergolong sebagai zat gizi, makanan berserat merupakan komponen penting dalam makanan sehari-hari. Ini disebabkan serat bisa menjaga kesehatan gusi dan gigi, mengendalikan berat badan, mengendalikan kadar gula dan lemak darah, meningkatkan penyerapan kalsium dan memperlancar buang air besar. Yang terakhir ini paling erat hubungannya dengan wasir.
”Setelah sebagian besar zat gizi diserap usus halus maka residunya dipindahkan ke usus besar di mana terjadi proses fermentasi feses atau kotoran ke bagian distal,” jelas Ekky yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara ini dalam kesempatan sama.
Pada kondisi kekurangan serat, massa feses menjadi terlalu sedikit untuk dapat didorong keluar oleh gerak peristaltik usus. Oleh karena itu makanan sehari-hari harus mengandung cukup serat disertai cukup minum. Konsumsi serat yang dianjurkan adalah sekitar 30-35 gram per hari.
Konsumsi serat sehari-hari dianggap cukup kalau seseorang sama sekali tidak menderita gangguan buang air besar. Aktivitas buang air besar yang normal adalah dilakukan sedikitnya sekali dalam sehari dan sama sekali tidak mengalami kesulitan apa-apa, yakni tanpa disertai rasa sakit.
Bagi pasien penderita wasir, perlu diberikan makanan serat ekstra. Konsumsi air minum sedikitnya dua liter atau delapan gelas dalam sehari. Ditambah menu makanan yang kaya serat seperti sereal dan umbi dari beras tumbuk, beras merah, ketan hitam, gandum, havermouth, jagung, ubi dan singkong. Sumber serat lain adalah kacang-kacangan, sayuran hijau, buah-buahan yang dimakan bersama kulitnya dan jelly atau agar-agar.(mer)

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id


Obat Alami untuk atasi wasir :
1. Lhiroid, 3x1
2. Rumput mutiara, 3x1

JIka ingin pesan herbal yg sdh dikemas dalam kapsul tsb silahkan contact :
1. email : budiprakoso98@gmail.com
2. YM : budi_prakoso98
3. HP : 081310343598

GONDOK/HIPERTIROID/TIROID

Pembesaran kelenjar gondok pada laki-laki sebagian besar adalah kanker ganas tiroid

Kelenjar gondok atau disebut kelenjar tiroid, adalah kelenjar yang normalnya berlokasi dibagian tengah-depan dari leher kita. Ada tiga bagian yaitu : lobus kanan, lobus kiri dan lobus intermedius yang menghubungkan lobus kanan dan lobus kiri.

Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid berukuran kecil, dengan berat hanya 2-4 gram posisinya dileher depan bagian tengah dan tidak teraba. Sehingga pada leher orang normal tidak tampak tonjolan atau massa yang mengganggu pemandangan seperti apa yang kita lihat pada penderita gondok.

Fungsi kelenjar tiroid yaitu mengatur metabolisme tubuh, sehingga segala sesuatunya berjalan lancar dan normal didalam tubuh seseorang. Maka dikenal beberapa istilah seperti : eutiroid, hipertiroid dan hipotiroid.

Eutiroid adalah keadaan dimana besar dan fungsi kelenjar gondok dalam keadaan normal. Hipertiroid, berarti kelenjar gondok bekerja melebihi kerja normal sehingga biasanya kelenjar gondok membesar dan juga akan didapatkan hasil laboratorium untuk hormon TSH, T3 dan T4 yang berada diatas ambang normal. Hipotiroid kebalikan dari hipertiroid, disini kelenjar gondok bekerja dibawah normal, sehingga ketiga hormon tadi kadarnya didalam serum dibawah angka normal. Apa gejala dan dampak dari kelainan kelenjar gondok ini ?

Gejala hipertiroid biasanya : si penderita hiperaktif, tidak bisa diam. Badan berkeringat berlebihan, suhu tubuh hangat, jantung berdebar-debar, tangan sering gemetar, bola mata agak menonjol. Banyak bicara susah diam, makan banyak akan tetapi badan tetap kurus dan seterusnya.

Penderita hipotiroid umumnya badan suhunya dingin, lembab. Orangnya rada obese, malas bergerak dan malas bicara. Biasanya lidahnya tampak besar dan tebal. Makan tidak banyak, akan tetapi tubuhnya tambun. Semuanya kebalikan dari gejala hipertiroid.

Pada hipertiroid , peradangan kelenjar tiroid maupun adanya neoplasma atau tumor kelenjar gondok, maka kelenjar itu akan membesar, berupa benjolan atau massa yang bisa diraba pada leher tengah bagian depan. Ciri khasnya : benjolan itu akan turut bergerak saat penderita melakukan gerakan menelan. Artinya bila penderita disuruh melakukan gerakan menelan, maka si benjolan tadi bergerak keatas dan kebawah, sesuai dan mengikuti irama gerakan menelan si penderita.

Sakitkah benjolan tadi ? Jawabnya : ada yang sakit dan ada yang tidak. Tergantung jenis kelainan yang ditemukan, biasanya bila akibat peradangan akan dirasakan sakit atau nyeri. Nyeri disini bisa nyeri spontan, artinya nyeri tanpa dilakukan penekanan terhadap benjolan. Dan atau nyeri tekan, yaitu nyeri bila benjolan ditekan pada saat dilakukan pemeriksaan.

Apakah penderita merasakan demam ? Jawabnya : bisa ya dan bisa tidak. Biasanya demam dirasakan pada awal kemunculan massa di kelenjar gondok itu dan demam biasa dijumpai pada kasus peradangan. Sedangkan pada neoplasma atau tumor kelenjar tiroid, biasanya penderita tidak akan merasakan nyeri maupun demam.

Mengenai tumor tiroid, kita mengenal ada yang jinak dan ada yang ganas. Neoplasma jinak biasanya jenis struma adenomatosa dan adenoma folikuler tiroid. Sedangkan neoplasma ganas umumnya yang tersering adalah karsinoma tiroid papilliferum.

Penderita kelainan kelenjar gondok biasanya 80-90 persen adalah kaum hawa. Sedangkan laki-laki sangat jarang. Namun demikian, prosentase keganasan pada penderita kaum adam cukup tinggi sekitar 60-70 persen dari seluruh kasus penderita kelainan tiroid pada laki-laki.

Karena itu, khusus kepada kaum adam, sering-seringlah memeriksa leher bagian depan anda. Bila dicurigai ada yang tidak beres, segera kunjungi dokter terdekat agar segera dapat dilakukan pemeriksaan lab dan lain-lain. Apabila fasilitas ada, dokter yang paling tepat menangani kelainan pada kelenjar gondok ini adalah dokter spesialis penyakit dalam (internist), sub-divisi Endokrinologi.

Sumber : http://www.sukmamerati.com

Obat alami untuk atasi Gondok/Hipertiroid/tiroid :
1. Ciplukan, 3x1
2. Mengkudu, 3x1
3. Rumput mutiara, 3x1 - jika ada pembengkakan

JIka ingin pesan herbal tersebut diatas, harga @ Rp.50.000,-//50kpsul. :
1. email : budiprakoso98@gmail.com
2. YM : budi_prakoso98
3. HP : 081310343598
 

ZOOM UNIK::UNIK DAN UNIK Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger