Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Agustus 2012

Cerita Antara Air dan Kopi

Foto: ♥ Air dan Kopi ♥  Kopi : "Janganlah kamu meremehkan secangkir kopi kecil seperti saya. Hargaku cukup mahal. Orang yang minum saya mendapatkan hasil menakjubkan. Jiwa mereka jadi enteng dan rasa lelah pun akan hilang sehingga tidak lagi ngantuk"  Bir : "Mana bisa kopi dibandingkan dengan air seperti saya. Bir adalah minuman terbaik di dunia. Setelah minum, orang akan menjadi bersahabat dan romantis. Selain itu, bir lebih mahal dari kopi, bisa 8x lipat dari harga kopi. Belum termasuk tip lho!"  Kopi : "Oke.. Walaupun saya bukan yang terbaik, saya lebih baik dari yang lain. Paling tidak saya harus bertanya kepada segelas air jernih untuk lebih meyakinkan. Ia hanya minuman gratis di meja ini. Ia tidak berharga sama sekali. Haha.. Menggelikan!"  Air jernih : " Jangan memandang rendah saya. Walaupun saya lebih tak berharga dibanding kalian dalam restoran ini, di gurun pasir saya adalah minuman yang paling menyenangkan"  Teh : "Air jernih masuk akal. Ijinkanlah saya, Merk Special teh Oo Long memberikan penjelasan. Di dunia ini, tidak ada perbedaan nyata atas segala sesuatu yang berharga. Segalanya berharga dan indah apa adanya. Dalam batas-batas nilai uang, teh yang bagus, seperti diriku berharga Rp.50.000.-/ons. Saya tidaklah lebih murah dari kalian berdua. Banyak orang tak peduli pada kopi dan bir, tapi mempunyai minat khusus pada diriku. Dalam menulis dan berpikir, secangkir kopi adalah teman yang baik. Saat bergaul dan perayaan, segelas bir yang baik akan terasa begitu menyenangkan. Dan untuk menghilangkan haus dan menambah cairan tubuh, air jernih adalah yang penting sebagai penyelamat hidup. Maka itu, segala sesuatu di dunia ini memiliki kualitas unik masing-masing. Tak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Bila kamu air, perankanlah air sebaik-baiknya. Bila kamu kopi, perankanlah kopi sebaik-baiknya"  Segala sesuatu adalah diri sendiri, tak perlu memutuskan baik vs buruk. Jika kamu adalah segelas air jernih, jangan merasa rendah diri. Air mempunyai artinya sendiri .....  Sumber : Dunia Motivasi


Kopi : "Janganlah kamu meremehkan secangkir kopi kecil seperti saya. Hargaku cukup mahal. Orang yang minum saya mendapatkan hasil menakjubkan. Jiwa mereka jadi enteng dan rasa lelah pun akan hilang sehingga tidak lagi ngan
tuk"

Bir : "Mana bisa kopi dibandingkan dengan air seperti saya. Bir adalah minuman terbaik di dunia. Setelah minum, orang akan menjadi bersahabat dan romantis. Selain itu, bir lebih mahal dari kopi, bisa 8x lipat dari harga kopi. Belum termasuk tip lho!"

Kopi : "Oke.. Walaupun saya bukan yang terbaik, saya lebih baik dari yang lain. Paling tidak saya harus bertanya kepada segelas air jernih untuk lebih meyakinkan. Ia hanya minuman gratis di meja ini. Ia tidak berharga sama sekali. Haha.. Menggelikan!"

Air jernih : " Jangan memandang rendah saya. Walaupun saya lebih tak berharga dibanding kalian dalam restoran ini, di gurun pasir saya adalah minuman yang paling menyenangkan"

Teh : "Air jernih masuk akal. Ijinkanlah saya, Merk Special teh Oo Long memberikan penjelasan. Di dunia ini, tidak ada perbedaan nyata atas segala sesuatu yang berharga. Segalanya berharga dan indah apa adanya. Dalam batas-batas nilai uang, teh yang bagus, seperti diriku berharga Rp.50.000.-/ons. Saya tidaklah lebih murah dari kalian berdua. Banyak orang tak peduli pada kopi dan bir, tapi mempunyai minat khusus pada diriku. Dalam menulis dan berpikir, secangkir kopi adalah teman yang baik. Saat bergaul dan perayaan, segelas bir yang baik akan terasa begitu menyenangkan. Dan untuk menghilangkan haus dan menambah cairan tubuh, air jernih adalah yang penting sebagai penyelamat hidup. Maka itu, segala sesuatu di dunia ini memiliki kualitas unik masing-masing. Tak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Bila kamu air, perankanlah air sebaik-baiknya. Bila kamu kopi, perankanlah kopi sebaik-baiknya"

Segala sesuatu adalah diri sendiri, tak perlu memutuskan baik vs buruk. Jika kamu adalah segelas air jernih, jangan merasa rendah diri. Air mempunyai artinya sendiri...

Jumat, 17 Agustus 2012

Cinta, Lebaran, Sepakbola dan 17 Agustus.


Postingan ini Spesial Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-67.


Cinta, Lebaran, Sepakbola dan 17 Agustus.


(Catatan: Tommy Rusihan Arief/Direktur Media PSSI)


"Cinta adalah tunas pesona jiwa dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad'' (Kahlil Gibran).

Di bulan suci Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1433 H saya banyak merenung. Terutama menjelang sahur atau berbuka puasa. Mungkinkah bangsa Indonesia yang besar ini sudah kekurangan rasa cinta?
Ataukah rasa cinta di negeri yang religius ini mulai tergerus oleh nilai-nilai individualistis? Mungkin pula karena faktor-faktor keegoan manusia lainnya?


Dalam dunia sepakbola Indonesia, cinta juga seolah pergi dan tergantikan oleh kebencian satu sama lain. Hanya karena alasan individualistis dan egosentris manusia!
Sepatutnya, dibulan yang penuh berkah ini, kita semua merenungkan kembali makna cinta yang sesungguhnya. 


Cinta penuh kasih di bulan penuh maaf, sehingga semua anak bangsa bisa saling memaafkan. Lebaran adalah pesona terindah untuk kesucian hati.
Banyak kekurangan dalam sepakbola Indonesia. Tetapi masih terlalu banyak hal membanggakan yang bisa menumbuh kembangkan rasa cinta. Banyak tunas pesona jiwa yang dapat memikat rasa cinta. Karena jika tunas pesona tidak tercipta dalam sesaat (saat ini), ia tidak akan tercipta bertahun-tahun bahkan abad.


Maka cintailah apa yang baik dan ada dalam persepakbolaan Indonesia. Jika kita tidak melakukannya saat ini, maka kita tidak akan pernah mencintainya selama berabad-abad. Mungkinkah kita selamanya akan kehilangan cinta terhadap kehormatan sepakbola Indonesia?


Kita harus mencintai kisah fantastis penampilan anak-anak muda Indonesia kala itu di Olimpiade Melbourne 1956. Ramang, Khairuddin Siregar, Kwee Kiat Sek, Phwa Sian Liong, Thio Him Tjiang, Tan Liong How dan kawan-kawan, bermain sebagai patriot Indonesia menahan imbang tim raksasa Uni Soviet (0-0) sebelum kalah 0-4 dalam partai ulang.


Hasil di perempatfinal Olimpiade Melbourne 1956 itu sangat istimewa karena Uni Soviet akhirnya menjadi juara. Tim Beruang Merah diperkuat kiper terbaik dunia sepanjang masa, Lev Yashin, yang saat itu berusia 27 tahun. Empat tahun kemudian diperkuat pemain-pemain yang sama, Uni Soviet juara Piala Eropa 1960.


Menurut catatan buku kecil pelatih Uni Soviet saat itu, Gavril Kachalin, (seperti diceritakan almarhum Anatoly Polosin) bahwa Ramang dan Tan Liong How sempat melepaskan empat tendangan keras ke gawang Uni Soviet dan berhasil digagalkan Yashin.
Setelah Melbourne 1956, timnas Indonesia juga mencatat prestasi yang patut diingat dengan rasa cinta. Indonesia mampu masuk perempat final Asian Games 1951, semifinal Asian Games 1954, urutan ketiga Asian Games 1958, perempatfinal Asian Games 1966, perempatfinal Asian Games 1970 dan perempatfinal Asian Games 1986.


Di event internasional lainnya, Indonesia juga menjadi juara Merdeka Games di Kuala Lumpur, empat kali (1960, 1961, 1962, 1969). Juara Agha Khan Gold Cup di Dacca, empat kali (1961, 1966, 1967, 1968) dan King's Cup di Bangkok, satu kali (1968).
Di tim Asian All Stars 1966-1970, tercatat empat pemain Indonesia yakni Soetjipto Soentoro, Jacob Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan sang legenda, Soetjipto Soentoro, menjadi kapten kesebelasan.


Ketika kompetisi semiprofesional Indonesia (Galatama) bergulir 1979, Federasi Sepakbola Jepang (JFA) mengirim utusan untuk berguru. Hasilnya, kompetisi profesional Jepang (J-League) bergulir sejak 1993 dan yang terbaik di Asia sampai saat ini.


Sepakbola tidak hanya soal menang kalah. Menang jadi penambah semangat. Kalah jadi pelecut semangat. Timnas Indonesia juga pernah mencatat kemenangan besar (12-0) atas Philipina pada 22 September 1972 di Seoul, Korea Selatan. Juga menang (13-1) atas Philipina, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 23 Desember 2002.
Tetapi kekalahan itu melecut Philipina untuk bangkit. Sekarang Philipina berada di peringkat 150 FIFA, lebih baik dari Indonesia (peringkat 159 FIFA).


Kita harus mengucapkan terimakasih dengan rasa cinta kepada pelatih-pelatih hebat timnas Indonesia yang mengharumkan Merah Putih. Mulai dari Antun 'Toni' Pogacnik, E.A. Mangindaan, Wiel Coerver, Endang Witarsa, Djamiat Dahlar, Sinyo Aliandoe, Bertje Matulapelwa, Anatoly Polosin, dan seterusnya. Keberhasilan mereka di masa lalu, dapat menjadi inspirasi bagi pelatih timnas Indonesia masa kini.


Bersama para legenda timnas Indonesia di masa lalu, para pelatih piawai ini adalah pahlawan bangsa di lapangan hijau. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk kehormatan sepakbola Indonesia di forum internasional.
Momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2012, refleksi cinta untuk saling memaafkan demi kehormatan bangsa, sangatlah bermakna. Spirit dan semangat juang pantang menyerah yang dicontohkan para pemain timnas di masa lalu, menjadi teladan bagi kita semua.


Karena di forum internasional, hanya dua moment dimana Lagu Kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dan bendera Merah Putih berkibar. Yaitu saat kunjungan kenegaraan Presiden ke luar negeri dan saat timnas Indonesia memenangkan kejuaraan antar bangsa.
Jadi tanggal 17 Agustus, tidak sekadar ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, 17 Agustus adalah sumber inspirasi bangsa untuk merapatkan barisan, menyatukan langkah dan membulatkan tekad menuju Indonesia jaya.


Dengan cinta, makna kesucian Hari Raya Idul Fitri 1433 H dan refleksi 17 Agustus, kita dapat menyimak setiap persoalan termasuk urusan sepakbola Indonesia, dengan lebih proporsional.
Dengan cinta, kita akan merasa tulus memiliki sepakbola Indonesia. Tidak dengan kata-kata. Bahkan dengan cinta yang sederhana.

''Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tidak diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tidak sempat dilakukan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada'' (Kahlil Gibran).

Seandainya sepakbola Indonesia penuh cinta, tidak perlu ada prahara. Karena prahara hanya mendatangkan nestapa.
Perlu rasa cinta dari semua orang untuk mendorong persiapan timnas menghadapi Piala AFF 2012. Rasa cinta dari semua stakes holder sepakbola Indonesia, diperlukan Nil Maizar sebagai pelatih. Sebab dibutuhkan persiapan spartan, untuk menghadapi tim kuat seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, ataupun Thailand, guna menggapai kebanggaan tertinggi di Piala AFF 2012.

Kita tidak mencari yang tidak kita dapatkan.
''Dengan apa saja kau jumpai, kau ciptakan permainan, kau buat kegembiraan, sementara aku habis waktu, habis pula tenaga mencari yang tak terdapatkan'' (Rabindranath Tagore).

Jayalah sepakbola Indonesia..!
Selamat HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2012. Merdeka..!
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Minal Aidin Walfaidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin!

12 Hal yang Membedakan Watak Orang Indonesia dan Jepang

1. Ketika di kendaraan umum:
Jepang: Orang2 pada baca buku atau tidur.
Indonesia: Orang2 pada ngobrol, ngegosip, ketawa-ketiwi cekikikan, ngelamun, dan tidur.

2. Ketika makan dikendaraan umum:
Jepang: Sampah sisa makanan disimpan ke dalam saku celana atau dimasukkan ke dalam tas, kemudian baru dibuang setelah nemu tong sampah.
Indonesia: De
ngan wajah tanpa dosa, sampah sisa makanan dibuang gitu aja di kolong bangku/dilempar ke luar jendela.

3. Ketika dikelas:
Jepang: Yang kosong adalah bangku kuliah paling belakang.
Indonesia: Yang kosong adalah bangku kuliah paling depan.

4. Ketika dosen memberikan kuliah:
Jepang: Semua mahasiswa sunyi senyap mendengarkan dengan serius.
Indonesia: Tengok ke kiri, ada yg ngobrol. Tengok ke kanan, ada yg baca komik. Tengok ke belakang, pada tidur. Cuman barisan depan aja yg anteng dengerin, itu pun karena duduk pas di depan hidung dosen!

5. Ketika diberi tugas oleh dosen:
Jepang: Hari itu juga, siang/malemnya langsung nyerbu perpustakaan atau browsing internet buat cari data.
Indonesia: Kalau masih ada hari esok, ngapain dikerjain hari ini!

6. Ketika terlambat masuk kelas:
Jepang: Memohon maaf sambil membungkukkan badan 90 derajat, dan menunjukkan ekspresi malu + menyesal gak akan mengulangi lagi.
Indonesia: Slonong boy & slonong girl masuk gitu aja tanpa bilang permisi ke dosen sama sekali.

7. Ketika dijalan raya:
Jepang: Mobil sangat jarang (kecuali di kota besar). Padahal jepang kan negara produsen mobil terbesar di dunia, mobilnya pada ke mana ya?
Indonesia: Jalanan macet, sampe2 saya susah nyebrang & sering keserempet motor yg jalannya ugal-ugalan.

8. Ketika jam kantor:
Jepang: Jalanan sepiiiii banget, kayak kota mati.
Indonesia: Ada Oknum pake seragam coklat2 pada keluyuran di mall-mall.

9. Ketika buang sampah:
Jepang: Sampah dibuang sesuai jenisnya. Sampah organik dibuang di tempat sampah khusus organik, sampah anorganik dibuang di tempat sampah anorganik.
Indonesia: Mau organik, anorganik, bangke binatang, semuanya tumplek jadi 1 dalam kantong kresek.

10. Ketika berangkat kantor:
Jepang: Berangkat naik kereta/bus kota. Mobil cuma dipake saat acara keluarga atau yg bersifat mendesak aja.
Indonesia: Gengsi dooonk... Masa' naik angkot?!

11. Ketika janjian ketemu:
Jepang: Ting...tong...semuanya datang tepat pada jam yg disepakati.
Indonesia: Salah 1 pihak pasti ada dibiarkan sampai berjamur & berkerak gara2 kelamaan nunggu!

12. Ketika berjalan dipagi hari:
Jepang: Orang2 pada jalan super cepat kayak dikejar doggy, karena khawatir telat ke kantor/sekolah.
Indonesia: Nyantai aja!! paling atasan nya juga telat

Kamis, 09 Agustus 2012

Berjuang Merebut Kemerdekaan dengan Bambu Runcing ?

Foto: Postingan ke-268 : Berjuang Merebut Kemerdekaan dengan Bambu Runcing?  berani baca harus like! post by -= F-A =-  Mari kita sejenak melihat sejarah perjuangan bangsa kita melawan penjajah Belanda dan Jepang, apa yang digunakan pejuang-pejuang kita dulu ? Bambu runcing ! ya senjata yang sangat sederhan a, hanya bambu yang diruncingkan bagian ujungnya. Itulah senjata yang digunakan. Namun dengan semangat jihad, hidup atau mati, merdeka atau mati, tercapailah apa yang dicita-citakan, KEMERDEKAAN !  Mungkin saat itu ada yang menilai, mana mungkin bembu runcing dapat mengalahkan tank-tank Belanda dan Jepang ? Mana mungkin bambu runcing dapat mengalahkan peralatan perang modern yang dimilki Belanda dan Jepang ?  Kita simpan sejenak kisah bambu runcing. Kita lihat betapa hebatnya negara penjajah kita saat itu: Jepang. Jepang menunjukkan kehebatannya dengan menyerang pearl harbour.  Pada 7 Desember 1941, pesawat Jepang dikomandoi oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo melaksanakan serangan udara kejutan terhadap Pearl Harbor, pangkalan angkatan laut AS terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang menghadapi perlawanan kecil dan menghancurkan pelabuhan tersebut. AS dengan segera mengumumkan perang terhadap Jepang.  Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara AS di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina dan koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Borneo dan Birma dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan daerah yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Markas Britania Raya di Singapura juga dikuasai, yang dianggap oleh Churchill sebagai salah satu kekalahan dan sejarah yang paling memalukan bagi Britania.  Amerika Serikat membalas Perebutan pulau-pulau seperti Iwo Jima dan Okinawa oleh pasukan AS menyebabkan Kepulauan Jepang berada dalam jangkauan serangan laut dan udara Sekutu. Di antara kota-kota lain, Tokyo dibom bakar oleh Sekutu, dimana dalam penyerangan awal sendiri ada 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota. Jumlah korban yang tinggi ini disebabkan oleh kondisi penduduk yang padat di sekitar sentra produksi dan konstruksi kayu serta kertas pada rumah penduduk yang banyak terdapat di masa itu. Tanggal 6 Agustus 1945, bomber B-29 “Enola Gay” yang dipiloti oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr. melepaskan satu bom atom Little Boy di Hiroshima, yang secara efektif menghancurkan kota tersebut.  Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang, seperti yang telah disetujui pada Konferensi Yalta, dan melancarkan serangan besar terhadap Manchuria yang diduduki Jepang (Operasi Badai Agustus). Tanggal 9 Agustus 1945,pesawat bomber jenis Boeing B-29 Superfortress “Bock’s Car” yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney melepaskan satu bom atom Fat Man di Nagasaki.  Kombinasi antara penggunaan bom atom dan keterlibatan baru Uni Soviet dalam perang merupakan faktor besar penyebab menyerahnya Jepang, walaupun sebenarnya Uni Soviet belum mengeluarkan deklarasi perang sampai tanggal 8 Agustus 1945, setelah bom atom pertama dilepaskan. Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945, menandatangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri di teluk Tokyo.  Mari kita lihat, mungkinkah bambu runcing melawan senjata super modern penjajah kita?  Setelah menyerahnya Jepang, Sekutu memerintahkan agar Pemerintahan militer Jepang di Indonesia terus menjaga status quo sambil menunggu kedatangan pasukan Sekutu. Meskipun masih memiliki kekuatan militer di Indonesia, jepang enggan mengerahkan pasukannya.  Beberapa saat setelah menyerahnya Jepang ke Sekutu, para meuda menginginkan segera dilaksanakan perebutan kekuasan dari Jepang. Namun “kaum tua” menolaknya. Kemudian kita mengenal sejarah penculikan Soekarno yang dibawa ke Rengasdengklok.  Secara sporadis para pemuda melakukan perebutan kekuasaan dengan mengambilalih stasiun kereta api Manggarai dan Jatinegara serta sejumlah sarana dan prasrana lainnya.  “Bantuan Jepang”  Aksi pemuda menimbulkan dilema di kalangan petinggi Jepang. Di satu sisi harus menjaga Status Quo hingga Sekutu datang, di sisi lain orang Jepang sakit hati atas kekalahan mereka dari Sekutu. Beberapa dari tentara Jepang memutuskan bergabung dengan pejuang Indonesia untuk menghadapi musuh bersama yaitu pasukan Sekutu dan Belanda.  Sebagian besar orang Jepang yang sakit hari itu memilih mendukung perjuangan Bangsa Indonesia secara diam-diam. Berdasarkan rapat staf Tentara Ke-16 Jepang pada 21 September 1945, Para Petinggi Militer Jepang di Jawa diperintahkan untuk membantu bangsa Indonesia.  Teknisnya secara semu para pemuda RI harus melakukan serangan militer ke tangsi-tangsi Militer Jepang. Namun, jepang tidak akan melakukan perlawanan bahkan mereka akan lari tunggang langgang sambil meninggalkan senjata. para pemuda menyerang dengan bambu runcing. Jadi Jepang bukan lari tunggang langgang karena takut bambu runcing tetapi karena diperintahkan oleh komandannya.  Di Bandung, Laksamana Maeda membentuk kesepakatan dengan pejuang Indonesia untuk melakukan pertempuran Sandiwara guna mengelabui pesawat pengintai Sekutu. Di tengan “Pertempuran Dahsyat” itu, pasukan Maeda kemudian menarik diri dan meninggalkan persenjataan mereka agar diambil oleh para pejuang Indonesia. Sebagai imbalannya, para pejuang menghadiahkan dua ekor kera kepada Maeda untuk dibawa pulang ke Jepang.  Namun, tidak semua tentara jepang mentaati perintah atasannya di Jakarta. Panglima Jepang di Jawa Tengah, Jenderal Nakamura telah memerintahkan pasukannya untuk menyerahkan senjata kepada pihak Indonesia. Namun, Komandan Garnisun Jepang di Semarang, Mayor Kido menolak dan mengabaikan perintah ini. Terjadilah pertempuran antara pihak Indonesia dengan Pasukan Jepang pimpinan Mayor Kido di Semarang yang dikenal dengan ‘Pertempuran Lima Hari’ dan berakhir ketika Sekutu datang Mengambil alih Indonesia.  Diperkirakan dalam pertempuran Lima Hari ini, 2000 orang Indonesia terbunuh. Pertempuran beakhir ketika Tentara Inggris tiba di Semarang.  Jadi kita harus logis dalam menilai sejarah. Maaf bukan mengecilkan arti perjuangan Bangsa, namun ini penting agar anak-anak kita berpikir jernih dan belajar kuat menjadi pemenang di dunia ini. Jika kita terlena dengan “khayalan” bahwa berjuang melawan pasukan Jepang yang memiliki pesawat pem-bom, Kapal Induk, Meriam dan Tank Baja mengadalkan Bambu Runcing.  Ajarkan anak-anak kita bahwa bila ingin menjadi bangsa yang besar berpikirlah besar. Ingin menjadi bangsa yang kuat, cerdaslah melalui pendidikan. Dan ingin menguasai dunia kuasailah teknologi, termasuk teknologi perang.  Saya akan sangat bangga ketika ada anak-anak kita kelak dewasa mampu menciptakan teknolgi super canggih untuk “menundukkan” bangsa lain. Tanpa harus terus menerus mengkhayal yang kecil melawan yang besar tanpa logika.  Untunglah Founding Father kita, bapak pendiri bangsa ini sangat bijak dengan menyebutkan kemenangan besar kemerdekaan RI adalah Atas Berkat Ramat Allah SWT sehingga kemerdekaan dapat terwujud melalui cara-Nya. Perjuangan melawan sekutu, militer RI dan para militer, pemuda dengan gagah berani menyambut kedatangan Sekutu dan NICA-Belanda dengan tembakan Senjata dan Meriam peninggalan Jepang.  Jadi menurut saya, jangan terlalu dibesar-besarkan perjuangan yang bermodal bambu runcing itu dapat mengalahkan penjajah Belanda dan Jepang ! Barangkali rakyat awam saat itu melihat pemuda menyerang tangsi militer jepang menggunakan bambu runcing memang benar adanya. Namun itu semua karena ada rahasia tingkat tinggi militer yang tak diketahuinya.  Jangan sampai anak-anak kita memandang bahwa jika menjadi Tentara Nasional Indonesia tidak memerlukan senjata canggih, cukup bambu runcing! Saya sangat bangga ketika militer Indonesia “Sangar” dengan senjata super canggihnya, apalagi buatan dalam negeri.
Mari kita sejenak melihat sejarah perjuangan bangsa kita melawan penjajah Belanda dan Jepang, apa yang digunakan pejuang-pejuang kita dulu ? Bambu runcing ! ya senjata yang sangat sederhan
a, hanya bambu yang diruncingkan bagian ujungnya. Itulah senjata yang digunakan. Namun dengan semangat jihad, hidup atau mati, merdeka atau mati, tercapailah apa yang dicita-cit
akan, KEMERDEKAAN !

Mungkin saat itu ada yang menilai, mana mungkin bembu runcing dapat mengalahkan tank-tank Belanda dan Jepang ? Mana mungkin bambu runcing dapat mengalahkan peralatan perang modern yang dimilki Belanda dan Jepang ?

Kita simpan sejenak kisah bambu runcing. Kita lihat betapa hebatnya negara penjajah kita saat itu: Jepang. Jepang menunjukkan kehebatannya dengan menyerang pearl harbour.

Pada 7 Desember 1941, pesawat Jepang dikomandoi oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo melaksanakan serangan udara kejutan terhadap Pearl Harbor, pangkalan angkatan laut AS terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang menghadapi perlawanan kecil dan menghancurkan pelabuhan tersebut. AS dengan segera mengumumkan perang terhadap Jepang.

Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara AS di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina dan koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Borneo dan Birma dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan daerah yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Markas Britania Raya di Singapura juga dikuasai, yang dianggap oleh Churchill sebagai salah satu kekalahan dan sejarah yang paling memalukan bagi Britania.

Amerika Serikat membalas
Perebutan pulau-pulau seperti Iwo Jima dan Okinawa oleh pasukan AS menyebabkan Kepulauan Jepang berada dalam jangkauan serangan laut dan udara Sekutu. Di antara kota-kota lain, Tokyo dibom bakar oleh Sekutu, dimana dalam penyerangan awal sendiri ada 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota. Jumlah korban yang tinggi ini disebabkan oleh kondisi penduduk yang padat di sekitar sentra produksi dan konstruksi kayu serta kertas pada rumah penduduk yang banyak terdapat di masa itu. Tanggal 6 Agustus 1945, bomber B-29 “Enola Gay” yang dipiloti oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr. melepaskan satu bom atom Little Boy di Hiroshima, yang secara efektif menghancurkan kota tersebut.

Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang, seperti yang telah disetujui pada Konferensi Yalta, dan melancarkan serangan besar terhadap Manchuria yang diduduki Jepang (Operasi Badai Agustus). Tanggal 9 Agustus 1945,pesawat bomber jenis Boeing B-29 Superfortress “Bock’s Car” yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney melepaskan satu bom atom Fat Man di Nagasaki.

Kombinasi antara penggunaan bom atom dan keterlibatan baru Uni Soviet dalam perang merupakan faktor besar penyebab menyerahnya Jepang, walaupun sebenarnya Uni Soviet belum mengeluarkan deklarasi perang sampai tanggal 8 Agustus 1945, setelah bom atom pertama dilepaskan. Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945, menandatangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri di teluk Tokyo.

Mari kita lihat, mungkinkah bambu runcing melawan senjata super modern penjajah kita?

Setelah menyerahnya Jepang, Sekutu memerintahkan agar Pemerintahan militer Jepang di Indonesia terus menjaga status quo sambil menunggu kedatangan pasukan Sekutu. Meskipun masih memiliki kekuatan militer di Indonesia, jepang enggan mengerahkan pasukannya.

Beberapa saat setelah menyerahnya Jepang ke Sekutu, para meuda menginginkan segera dilaksanakan perebutan kekuasan dari Jepang. Namun “kaum tua” menolaknya. Kemudian kita mengenal sejarah penculikan Soekarno yang dibawa ke Rengasdengklok.

Secara sporadis para pemuda melakukan perebutan kekuasaan dengan mengambilalih stasiun kereta api Manggarai dan Jatinegara serta sejumlah sarana dan prasrana lainnya.

“Bantuan Jepang”

Aksi pemuda menimbulkan dilema di kalangan petinggi Jepang. Di satu sisi harus menjaga Status Quo hingga Sekutu datang, di sisi lain orang Jepang sakit hati atas kekalahan mereka dari Sekutu. Beberapa dari tentara Jepang memutuskan bergabung dengan pejuang Indonesia untuk menghadapi musuh bersama yaitu pasukan Sekutu dan Belanda.

Sebagian besar orang Jepang yang sakit hari itu memilih mendukung perjuangan Bangsa Indonesia secara diam-diam. Berdasarkan rapat staf Tentara Ke-16 Jepang pada 21 September 1945, Para Petinggi Militer Jepang di Jawa diperintahkan untuk membantu bangsa Indonesia.

Teknisnya secara semu para pemuda RI harus melakukan serangan militer ke tangsi-tangsi Militer Jepang. Namun, jepang tidak akan melakukan perlawanan bahkan mereka akan lari tunggang langgang sambil meninggalkan senjata. para pemuda menyerang dengan bambu runcing. Jadi Jepang bukan lari tunggang langgang karena takut bambu runcing tetapi karena diperintahkan oleh komandannya.

Di Bandung, Laksamana Maeda membentuk kesepakatan dengan pejuang Indonesia untuk melakukan pertempuran Sandiwara guna mengelabui pesawat pengintai Sekutu. Di tengan “Pertempuran Dahsyat” itu, pasukan Maeda kemudian menarik diri dan meninggalkan persenjataan mereka agar diambil oleh para pejuang Indonesia. Sebagai imbalannya, para pejuang menghadiahkan dua ekor kera kepada Maeda untuk dibawa pulang ke Jepang.

Namun, tidak semua tentara jepang mentaati perintah atasannya di Jakarta. Panglima Jepang di Jawa Tengah, Jenderal Nakamura telah memerintahkan pasukannya untuk menyerahkan senjata kepada pihak Indonesia. Namun, Komandan Garnisun Jepang di Semarang, Mayor Kido menolak dan mengabaikan perintah ini. Terjadilah pertempuran antara pihak Indonesia dengan Pasukan Jepang pimpinan Mayor Kido di Semarang yang dikenal dengan ‘Pertempuran Lima Hari’ dan berakhir ketika Sekutu datang Mengambil alih Indonesia.

Diperkirakan dalam pertempuran Lima Hari ini, 2000 orang Indonesia terbunuh. Pertempuran beakhir ketika Tentara Inggris tiba di Semarang.

Jadi kita harus logis dalam menilai sejarah. Maaf bukan mengecilkan arti perjuangan Bangsa, namun ini penting agar anak-anak kita berpikir jernih dan belajar kuat menjadi pemenang di dunia ini. Jika kita terlena dengan “khayalan” bahwa berjuang melawan pasukan Jepang yang memiliki pesawat pem-bom, Kapal Induk, Meriam dan Tank Baja mengadalkan Bambu Runcing.

Ajarkan anak-anak kita bahwa bila ingin menjadi bangsa yang besar berpikirlah besar. Ingin menjadi bangsa yang kuat, cerdaslah melalui pendidikan. Dan ingin menguasai dunia kuasailah teknologi, termasuk teknologi perang.

Saya akan sangat bangga ketika ada anak-anak kita kelak dewasa mampu menciptakan teknolgi super canggih untuk “menundukkan” bangsa lain. Tanpa harus terus menerus mengkhayal yang kecil melawan yang besar tanpa logika.

Untunglah Founding Father kita, bapak pendiri bangsa ini sangat bijak dengan menyebutkan kemenangan besar kemerdekaan RI adalah Atas Berkat Ramat Allah SWT sehingga kemerdekaan dapat terwujud melalui cara-Nya. Perjuangan melawan sekutu, militer RI dan para militer, pemuda dengan gagah berani menyambut kedatangan Sekutu dan NICA-Belanda dengan tembakan Senjata dan Meriam peninggalan Jepang.

Jadi menurut saya, jangan terlalu dibesar-besarkan perjuangan yang bermodal bambu runcing itu dapat mengalahkan penjajah Belanda dan Jepang ! Barangkali rakyat awam saat itu melihat pemuda menyerang tangsi militer jepang menggunakan bambu runcing memang benar adanya. Namun itu semua karena ada rahasia tingkat tinggi militer yang tak diketahuinya.

Jangan sampai anak-anak kita memandang bahwa jika menjadi Tentara Nasional Indonesia tidak memerlukan senjata canggih, cukup bambu runcing! Saya sangat bangga ketika militer Indonesia “Sangar” dengan senjata super canggihnya, apalagi buatan dalam negeri.
 

ZOOM UNIK::UNIK DAN UNIK Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger