Warung Bebas

Minggu, 03 Juni 2007

MAHKOTA DEWA- TANAMAN MULTI KHASIAT

Mahkota Dewa atau Phaleria macrocarpa adalah tanaman asli Indonesia yang terbukti empiris menyembuhkan segala penyakit, dari yang ringan sampai berat.
Masyarakat sadar akan pentingnya “Back To Nature”, terlihat banyaknya penelitian tanaman pusaka para dewa ini. Tim peneliti Cancer Research Group Fak.Farmasi UGM dibawah naungan Dr. Edy Meiyanto, MSi, Apt. membuktikan ekstrak air daging buah Mahkota Dewa menghambat pertumbuhan kanker (pendekatan DNA supercoil).
Tidak mengherankan tanaman ini mulai diburu masyarakat guna menjaga kesehatan dan penyembuhan penyakit.

Khasiat Mahkota Dewa :
Secara empiris mampu menyembuhkan lever, kanker, jantung, lemah syahwat, rhematik, diabetes mellitus, ketagihan narkoba, asam urat, darah tinggi, dan penyakit ringan (seperti EKSIM, JERAWAT, DAN LUKA GIGITAN SERANGGA) bisa disembuhkan dengan pohon ini.

Mahkota dewa adalah tanaman asli Indonesia. Habitat asalnya di tanah Papua. Namun, entah bagaimana caranya, tanaman ini masuk ke Keraton Mangkunegara di Solo dan Keraton Yogyakarta. Di kedua tempat itu mahkota dewa dikenal sebagai tanaman obat. Dulu memang hanya kedua keraton itu yang mengenal khasiat mahkota dewa untuk keperluan pengobatan.

Ukuran :
Sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohon bercabang-cabang. Ketinggiannya sekitar 1,5 - 2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, bisa mencapai lima meter. Mahkota dewa bisa sampai berumur puluhan tahun. Tingkat produktivitasnya mampu dipertahankan sampai usia 10 hingga 20 tahun. Pohon mahkota dewa terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akarnya berupa akar tunggang. Panjang akarnya bisa sampai 100 cm. Akar ini belum terbukti bisa digunakan untuk pengobatan.

Kandungan & Manfaat : Masalah yang mengganjal terhadap pemakaian mahkota dewa sebagai tanaman obat adalah terbatasnya pembuktian-pembuktian ilmiah akan kegunaan pohon ini. Selama ini pembuktian yang ada sebagian terbesar masih berupa pembuktian empiris, pembuktian yang hanya berdasarkan pada pengalaman pengguna.

Literatur-literatur yang membahasnya pun sangat terbatas. R. Broto Sudibyo, Kepala Bidang Pelayanan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, menguatkan keterbatasan literatur ini. Dalam literatur kuno pun, keterangan mengenai mahkota dewa sangat terbatas. Hanya kegunaan biji buah yang bermanfaat sebagai bahan baku obat luar, misalnya untuk obat kudis, yang dibahas.

Dari penelitian ilmiah yang sangat terbatas itu diketahui bahwa mahkota dewa memiliki kandungan kimia yang kaya. Itu pun belum semuanya terungkap. Dalam daun dan kulit buahnya terkandung ALKALOID, SAPONIN, dan FLAVONOID. Selain itu, di dalam daunnya juga terkandung POLIFENOL.

Seorang ahli farmakologi dari Fakultas Kedokteran UGM, dr. Regina Sumastuti, berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung ZAT ANTIHISTAMIN. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan begitu, dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, selesma, dan sesak napas. Penelitian dr. Regina juga membuktikan bahwa mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar. Pembuktian empiris yang ada cukup banyak. Kasusnya juga berbeda-beda, dari yang berat sampai yang sepele. Kasus Tuti di atas hanyalah salah satu contoh.

Sampai saat ini banyak penyakit yang berhasil disembuhkan dengan mahkota dewa. Beberapa penyakit berat (seperti SAKIT LEVER, KANKER, SAKIT JANTUNG, KENCING MANIS, ASAM URAT, REUMATIK, SAKIT GINJAL, TEKANAN DARAH TINGGI, LEMAH SYAHWAT DAN KETAGIHAN NARKOBA) dan penyakit ringan (seperti EKSIM, JERAWAT, DAN LUKA GIGITAN SERANGGA) bisa disembuhkan dengan pohon ini.

Pembuktian empiris juga dapat ditemui di sebuah pesantren yang getol menangani korban obat-obat psikotropika. Bahkan, beberapa orang dokter yang mengidap penyakit cukup gawat pun sudah membuktikan khasiat mahkota dewa.

PERHATIAN:
IBU-IBU YANG HAMIL MUDA DILARANG MENGKONSUMSI MAHKOTA DEWA. KARENA, MAHKOTA DEWA DAPAT MENINGKATKAN KONTRAKSI OTOT RAHIM SEHINGGA SANGAT BERBAHAYA BAGI KONDISI KEHAMILAN

MAHKOTA DEWA- TANAMAN MULTI KHASIAT

Mahkota Dewa atau Phaleria macrocarpa adalah tanaman asli Indonesia yang terbukti empiris menyembuhkan segala penyakit, dari yang ringan sampai berat.
Masyarakat sadar akan pentingnya “Back To Nature”, terlihat banyaknya penelitian tanaman pusaka para dewa ini. Tim peneliti Cancer Research Group Fak.Farmasi UGM dibawah naungan Dr. Edy Meiyanto, MSi, Apt. membuktikan ekstrak air daging buah Mahkota Dewa menghambat pertumbuhan kanker (pendekatan DNA supercoil).
Tidak mengherankan tanaman ini mulai diburu masyarakat guna menjaga kesehatan dan penyembuhan penyakit.

Khasiat Mahkota Dewa :
Secara empiris mampu menyembuhkan lever, kanker, jantung, lemah syahwat, rhematik, diabetes mellitus, ketagihan narkoba, asam urat, darah tinggi, dan penyakit ringan (seperti EKSIM, JERAWAT, DAN LUKA GIGITAN SERANGGA) bisa disembuhkan dengan pohon ini.

Mahkota dewa adalah tanaman asli Indonesia. Habitat asalnya di tanah Papua. Namun, entah bagaimana caranya, tanaman ini masuk ke Keraton Mangkunegara di Solo dan Keraton Yogyakarta. Di kedua tempat itu mahkota dewa dikenal sebagai tanaman obat. Dulu memang hanya kedua keraton itu yang mengenal khasiat mahkota dewa untuk keperluan pengobatan.

Ukuran :
Sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohon bercabang-cabang. Ketinggiannya sekitar 1,5 - 2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, bisa mencapai lima meter. Mahkota dewa bisa sampai berumur puluhan tahun. Tingkat produktivitasnya mampu dipertahankan sampai usia 10 hingga 20 tahun. Pohon mahkota dewa terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akarnya berupa akar tunggang. Panjang akarnya bisa sampai 100 cm. Akar ini belum terbukti bisa digunakan untuk pengobatan.

Kandungan & Manfaat : Masalah yang mengganjal terhadap pemakaian mahkota dewa sebagai tanaman obat adalah terbatasnya pembuktian-pembuktian ilmiah akan kegunaan pohon ini. Selama ini pembuktian yang ada sebagian terbesar masih berupa pembuktian empiris, pembuktian yang hanya berdasarkan pada pengalaman pengguna.

Literatur-literatur yang membahasnya pun sangat terbatas. R. Broto Sudibyo, Kepala Bidang Pelayanan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, menguatkan keterbatasan literatur ini. Dalam literatur kuno pun, keterangan mengenai mahkota dewa sangat terbatas. Hanya kegunaan biji buah yang bermanfaat sebagai bahan baku obat luar, misalnya untuk obat kudis, yang dibahas.

Dari penelitian ilmiah yang sangat terbatas itu diketahui bahwa mahkota dewa memiliki kandungan kimia yang kaya. Itu pun belum semuanya terungkap. Dalam daun dan kulit buahnya terkandung ALKALOID, SAPONIN, dan FLAVONOID. Selain itu, di dalam daunnya juga terkandung POLIFENOL.

Seorang ahli farmakologi dari Fakultas Kedokteran UGM, dr. Regina Sumastuti, berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung ZAT ANTIHISTAMIN. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan begitu, dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, selesma, dan sesak napas. Penelitian dr. Regina juga membuktikan bahwa mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar. Pembuktian empiris yang ada cukup banyak. Kasusnya juga berbeda-beda, dari yang berat sampai yang sepele. Kasus Tuti di atas hanyalah salah satu contoh.

Sampai saat ini banyak penyakit yang berhasil disembuhkan dengan mahkota dewa. Beberapa penyakit berat (seperti SAKIT LEVER, KANKER, SAKIT JANTUNG, KENCING MANIS, ASAM URAT, REUMATIK, SAKIT GINJAL, TEKANAN DARAH TINGGI, LEMAH SYAHWAT DAN KETAGIHAN NARKOBA) dan penyakit ringan (seperti EKSIM, JERAWAT, DAN LUKA GIGITAN SERANGGA) bisa disembuhkan dengan pohon ini.

Pembuktian empiris juga dapat ditemui di sebuah pesantren yang getol menangani korban obat-obat psikotropika. Bahkan, beberapa orang dokter yang mengidap penyakit cukup gawat pun sudah membuktikan khasiat mahkota dewa.

PERHATIAN:
IBU-IBU YANG HAMIL MUDA DILARANG MENGKONSUMSI MAHKOTA DEWA. KARENA, MAHKOTA DEWA DAPAT MENINGKATKAN KONTRAKSI OTOT RAHIM SEHINGGA SANGAT BERBAHAYA BAGI KONDISI KEHAMILAN


Kami menyediakan Kapsul Ektrak Mahkota Dewa, harga Rp. 67.500,-/botol isi 50 butir.

Minggu, 27 Mei 2007

SAMBILOTO TANAMAN ANTI RADANG, ANTI BAKTERI, ANTI PIRETIK, ANALGESIK

Jumat, 07 Nopember 2003
Penelitian Mahasiswa UGM

Ekstrak Sambiloto (andrographis paniculata) terbukti mampu meningkatkan pertahanan tubuh terhadap infeksi staphylococcus aureus. Itu ditandai dengan meningkatnya neotrofil, limfosit, dan perbaikan jaringan paru-paru, hati, dan ginjal pada mencit (tikus kecil) yang menjadi percobaan. Sambiloto di Indonesia juga dikenal dengan nama sampiroto, sadilata, bidara, takila, daun ki ular, ki oray, ki peurat, atau pada masyarakat Melayu dikenal dengan pepaitan.

Lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta yang melakukan penelitian tersebut juga menemukan bahwa infeksi staphylococcus aureusdapat menyebabkan penurunan leokosit diikuti dengan neutropenia. Kelima mahasiswa itu adalah Sidna Artanto, Eko Prasetio, Anwar Bahri, Rini Nur H, dan Nura Maya Sari.

Penelusuran pustaka yang dilakukan sebelumnya menyebutkan, sambiloto merupakan salah satu spesies yang mempunyai khasiat medis> Di antara khasiat tanaman ini adalah sebagai obat anti radang, analgesik, anti bakteri, dan antipiretik. Kandungan androgpholide di dalamnya mampu meningkatkan fungsi sistem pertahanan tubuh seperti produksi sel darah putih yang menyerang bakteri dan benda asing lainnya, mampu memicu produksi interferon yang merupakan protein spesifik (sitokin) yang dibuat oleh sel sebagai respon adanya benda asing termasuk bakteri. Andrographolide selain tidak bersifat toksik pada manusia juga tidak mempunyai efek samping seperti agen kemoterapi konfensional yang lain.

Sambiloto juga dikenal sebagai salah satu tanaman obat tradisional sejak abad 18. Tanaman berdaun kecil dengan tinggi 40-100 cm ini mempunyai daftar panjang dalam menanggulangi berbagai penyakit. Dalam sebuah medical journal, tamanan ini dilaporkan mampu mengatasi penyempitan pembuluh darah akibat tingginya kadar kolesterol darah. Sambiloto dilaporkan pula mempunyai khasiat sebagai anti bakteri, anti radang, penghambat reaksi immunitas, penghilang nyeri, pereda demam, menghilangkan panas dalam, menghilangkan lembab, penawar racun, dan detumescent.

Dalam kaitan itulah, kelima mahasiswa ini melakukan kajian dengan acuan laboratoris mengenai pengaruh ekstrak sambiloto dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus. Infeksi bakteri ini pada manusia dapat menimbulkan berbagai macam manifestasi klinis. Risiko tertinggi bisa terjadi pada kasus neonatal dan pasien dengan terapi steroid atau antibiotik kepanjangan. Ibu yang baru melahirkan bila terserang bakteri ini akan mengalami debilitasi,

Infeksi pada kulit biasanya berbentuk impetigo (wudun), pada paru-paru berbentuk pneumionia, pada jantung berbentuk endokardiris dan jika pada ambing menyebabkan mastitis. Bahkan enteroksin dari staphylococcus aureus ini menyebabkan gejala gastroenteritis yang akut setelah menelan makanan dua sampai lima jam kemudian.

Penelitian ini menggunakan 20 mencit jantan yang dibagi menjadi lima kelompok. Tiap kelompok terdiri atas empat ekor mencit. Sampel yang digunakan adalah darah untuk pemeriksaan leukosit dan organ hati, paru dan ginjal untuk pemeriksaan histopatologi yang diambil dari seluruh populasi mencit.

Data yang digunakan meliputi gambaran leukosit yang diambil dengan interval waktu tujuh hari selama penelitian. Gambaran histopatologik organ hati, paru dan ginjal yang diperoleh setelah eutanasi, nekropsi dan seksi organ hewan percobaan pada akhir penelitian.

Sambiloto diperoleh dari Pusat Peneolitian Tanaman Obat Tradisional (PPOT) UGM yang dibuat dalam sediaan ekstrak. Bahan lainnya adalah biak murni staphylococcus aureus strain, plat agar darah (PAD), media broth heart infusion (BHI), ethylene diamine tetra acid (EDTA), larutan turk, larutan giemsa, phospat buffer saline (PBS) steril, dan metanol.

Dalam analisa data, jumlah total leukosit dan diferensial leukosit diolah secara statistik dengan menggunakan metode split-plot. Data yang menunjukkan signifikan dilanjutkan dengan uji HSD Tukey's untuk mengetahui variabel-variabel dari ketiga kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan. Gambaran histopatologik organ hati, paru dan ginjal dianalisa secara deskriptif dengan cara membandingkan kelompok perlakuan dengan kontrol.

Dari serangkaian penelitian itu disimpulkan, infeksi bakteri staphylococcus aureus menyebabkan keradangan pada paru-paru, hati, dan ginjal mencit percobaan. Infeksi ini dapat menyebabkan penurunan leukosit diikuti dengan neutropenia. Pemberian ekstrak sambiloto pada mencit percobaan diketahui dapat meningkatkan sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi staphylococcus aureus. bur( )

Sumber :http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=1&id=145117&kat_id=105&kat_id1=151&kat_id2=192


NB: Kami menyediakan Ektrak Herbal Sambiloto, info lebih lanjut bisa klik di http://herbmedicine.blogspot.com ATAU sehatherbal@yahoo.co.id / 081310343598

Kamis, 24 Mei 2007

LENGKUAS , Anti Jamur dan Anti Kembung

Lengkuas (Alpina galanga SW) dikenal kaya kandungan kimia. Beberapa zat kimia yang sudah diketahui terkandung dalam tanaman yang dikenal dengan nama daerah laos, laja, atau isem ini adalah saponin, tanin, flavonoida, dan minyak atsiri. Selain itu, terdapat kandungan aktif basonin, eugenol, galangan, dan galangol.

Lengkuas termasuk ke dalam famili Zingiberacceae. Tanaman yang memiliki tinggi hingga tiga meter ini terbagi dalam dua jenis, putih dan merah. Tanaman ini memiliki akar tak teratur. Di lapisan luar terdapat kulit tipis berwarna coklat dan merah di bagian tangkai yang berbentuk umbi. Bagian dalam berwarna putih, jika dikeringkan menjadi kehijau-hijauan. Tanaman ini memiliki bau seperti bumbu, dan berasa pedas tajam seperti lidah tergigit.

Lengkuas yang biasanya digunakan untuk pengobatan adalah jenis lengkuas merah (Alpinia purpurata K Schum). Dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional lainnya disebutkan, lengkuas merah memiliki sifat antijamur dan antikembung. Efek farmakologi ini umumnya diperoleh dari rimpang yang mengandung basonin, eugenol, galangan dan galangol.

Basonin dikenal memiliki efek merangsang semangat, eugenol mencegah ejakulasi prematur, antijamur Candica albicans, antikejang analgetik, anestetik, dan penekan pengendali gerak, galangan meredakan rasa lelah, antimutagenik, penghambat enzim siklo-oksigenase dan lipoksogenase, sementara galangol dapat merangsang semangat dan menghangatkan tubuh.

Berdasarkan berbagai literatur tentang pengalaman turun-temurun dari berbagai daerah dan negara, lengkuas merah dapat mengobati penyakit-penyakit seperti gangguan perut (kembung, sebah), panu, kurap, eksema, bercak-bercak kulit dan tahi lalat (sproeten), demam dan pembengkakan limpa, pembersih usai bersalin, radang telinga, bronchitis, masuk angin, diare, sakit gigi karena angin dingin, dan sebagai obat kuat.
Untuk mengobati gangguan perut, lengkuas merah sebesar satu jari diiris tipis-tipis, rebus dengan tiga gelas air hingga menjadi dua gelas. Minum satu gelas pagi dan sore sebelum makan.

Sebagai obat panu, ambil rimpang segar satu jari, potong miring, ujung dipukul-pukul hingga seperti kuas, dan gosokkan pada panu. Untuk mengobati kurap, giling hingga halus rimpang lengkuas empat jari dan bawang putih satu buah. Tambahkan satu sendok cuka, panaskan, dan oleskan pada bagian tubuh yang terkena kurap.

Untuk mengobati eksema, cuci dan parut satu jari rimpang, tambahkan air kapur sirih secukupnya, lalu aduk hingga menjadi adonan seperti bubur. Pakai adonan untuk menurap kulit yang terkena eksema, lalu dibalut. Balutan adonan diganti dua hari sekali.

Untuk obat antidemam yang disertai pembesaran limpa; cuci, parut, dan peras rimpang. Tambahkan satu sendok teh air dan sedikit garam dapur, lalu diminum di pagi hari.

Untuk pembersihan sehabis bersalin (nifas), ambil rimpang lengkuas yang masih muda sebesar tiga jari, dicuci, potong-potong, rebus dengan air secukupnya, lalu diminum. Untuk mengobati bronchitis, rimpang lengkuas satu jari dicuci bersih, lalu parut. Tambahkan setengah cangkir air masak dan dua sendok makan madu, lalu diremas sampai merata. Peras dan saring untuk tiga kali minum setiap hari.

Sebagai obat diare, parut tiga perempat rimpang, tambahkan setengah cangkir air dan satu sendok madu. Peras, saring, lalu minum dua kali sehari. Sementara untuk obat kuat (aphrodisiac), minum air rebusan rimpang (sebaiknya dicampur dengan tanaman obat lainnya). arp
Sumber : http://republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=2&id=127831&kat_id=105&kat_id1=150&kat_id2=187

Selasa, 08 Mei 2007

TEMPUYUNG DATANG, BATU GINJAL HILANG

Mengusir batu ginjal dengan menggunakan tanaman obat rupanya tak bisa dikesampingkan begitu saja. Beberapa hasil penelitian laboratorium menunjukkan, banyak tanaman mampu menghancurkan atau mengikir batu dari senyawa yang biasa terbentuk dalam ginjal. Beberapa di antaranya disajikan dalam tulisan ini.


Penyembuhan penyakit batu ginjal memang bisa dilakukan dengan banyak cara. Dari yang tradisional hingga yang berteknologi canggih, semua sudah bisa dipilih di negeri ini. Masing-masing cara tentu ada kelebihan dan kekurangan.

Bila dipilah-pilah, penyembuhan itu bisa dibedakan atas penyembuhan dengan obat, operasi, dan penembakan sinar laser atau gelombang kejut. Penentuan cara yang hendak dipilih sangat tergantung dari kondisi pasien. Makin berat kasus penyakit batu ginjal yang dialami pasien, makin radikal pula penyembuhannya.

Bila batu ginjal itu masih kecil sehingga bisa diusahakan untuk dikeluarkan bersama air seni, maka digunakan obat diuretik pelancar pengeluaran urine. Namun, kalau batunya sudah membesar, obat penghancur batu pun mulai diperlukan. Kalau batu ginjal itu terdiri atas garam karbonat, obat penghancurnya dipilih yang di dalam ginjal bisa menjadi asam sehingga senyawa karbonatnya hancur atau larut. Terkadang pula, dalam kasus yang disertai adanya luka, penyembuhan pasien penderita batu ginjal memerlukan obat yang di dalam urine bersifat antibakteri. Luka tersebut terjadi karena batu telah merusak ginjal yang ditandai dengan adanya darah dalam kencing.

Bila diameter batu ginjal lebih besar lagi, penyembuhan bisa dengan melakukan pemecahan batu menggunakan sinar laser atau gelombang kejut ultrasonik. Kalau upaya-upaya tadi belum membuahkan hasil, tindakan operasi pengangkatan batu biasanya dilakukan sebagai langkah akhir yang radikal. Ini pun tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah karena setelah operasi dilakukan, batu ginjal masih mungkin muncul lagi.

Berkat kalium
Di samping cara-cara medis tadi, pengusiran batu ginjal juga bisa dilakukan dengan cara alternatif, yakni menggunakan obat tradisional yang terutama terdiri atas tanaman "penghancur" batu ginjal. Memang, belum semua obat tradisional telah diuji dengan penelitian ilmiah. Kalau pun sudah diteliti, seringkali belum dilakukan secara terinci seperti yang dilakukan terhadap obat-obatan modern. Obat-obatan tradisional lebih berdasarkan pada pengalaman empiris. Meski begitu, tanaman yang dikenal sebagai peluruh batu ginjal tadi berindikasi baik dan tergolong baik dalam dosis yang ditetapkan.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap khasiat tanaman dalam mengusir batu ginjal di antaranya melalui daya larut infus atau hasil proses lain terhadap kristal karbonat secara invitro dalam cawan petri. Tentu saja cara ini memiliki kelemahan, yakni belum tentu daya larutnya sama bila terjadi di dalam tubuh manusia.

Penelitian juga dilakukan menggunakan tikus. Pada hewan percobaan ini biasanya dibuat batu dalam kandung kemih. Pembuatan batu dalam ginjal tikus belum dapat dilakukan. Hasilnya, beberapa tanaman dapat menghancurkan atau mencegah pembentukan batu dalam kandung kemih. Ini pun belum tentu berlaku bagi manusia. Lagi pula yang diuji berupa batu dalam kandung kemih, bukan batu ginjal.

Beberapa tanaman yang telah diteliti tadi di antaranya tempuyung, srigunggu, sambang getih, gempur watu, dan keji beling IV. Dari sekian jenis tanaman tersebut tempuyung merupakan yang terpopuler. Bahkan, tanaman ini telah diolah dalam skala industri sebagai obat penghancur batu ginjal.

Tempuyung (Sonchus arvensis L) termasuk tanaman terna menahun yang biasanya tumbuh di tempat-tempat yang ternaungi. Daunnya hijau licin dengan sedikit ungu, tepinya berombak, dan bergigi tidak beraturan. Di dekat pangkal batang, daun bergigi itu terpusar membentuk roset dan yang terletak di sebelah atas memeluk batang berselang seling. Daun berombak memeluk batang inilah yang berkhasiat menghancurkan batu ginjal.

Di dalam daun tersebut terkandung kalium berkadar cukup tinggi. Kehadiran kalium dari daun tempuyung inilah yang membuat batu ginjal berupa kalsium karbonat tercerai berai, karena kalium akan menyingkirkan kalsium untuk bergabung dengan senyawa karbonat, oksalat, atau urat yang merupakan pembentuk batu ginjal. Endapan batu ginjal itu akhirnya larut dan hanyut keluar bersama urine.

Untuk menggunakannya sebagai obat diperlukan lima lembar daun tempuyung segar. Setelah dicuci bersih, daun diasapkan sebentar. Daun tersebut dimakan sekali habis sebagai lalap bersama nasi. Dalam sehari kita bisa memakan lalap itu sebanyak tiga kali.
Cara lainnya, 500 mg daun tempuyung kering diseduh dengan air satu gelas minum seperti membuat teh. Air seduhan inilah yang diminum sebagai obat. Dalam sehari kita bisa meminumnya sebanyak tiga kali, sampai batu ginjal hilang.

Penelitian tanaman ini dilakukan oleh almarhum Prof. Dr. Sarjito dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Dalam penelitian itu dia merendam batu ginjal seseorang dalam rebusan daun tempuyung pada suhu kamar dan pada suhu 37oC. Bahan percobaan tadi ada yang digoyang seperti gerakan tubuh manusia, ada pula yang tidak. Setelah itu batu ditimbang dan kalsium dalam larutan diukur secara kimia. Hasilnya, semua batu ginjal berkurang bobotnya.

Sarjito juga meneliti daya penghancuran batu ginjal manusia dengan melakukan pemeriksaan kristal dalam air seni dan dengan menggunakan sinar rontgen. Hasilnya, diketahui tanaman tempuyung dapat menghancurkan batu ginjal. Sayangnya, sampai sekarang belum diketahui senyawa yang melarutkan atau menghancurkan batu ginjal.

Hancurkan batu, relaksasi otot
Tanaman lain yang sudah cukup banyak diteliti khasiatnya dalam menyingkirkan batu ginjal adalah srigunggu (Clerodendron serratum Speng). Tanaman perdu tegak yang tingginya 1 - 3 m ini cukup dikenal di seluruh P. Jawa. Ia tumbuh dari daerah pesisir hingga pada ketinggian 1.700 m di atas permukaan laut.

Berdasarkan penelitian Adjirni, dkk. (1996) tanaman ini terbukti memiliki daya penghancur batu kandung kemih pada tikus. Sedangkan Suyati Woro Indiyah (1983) membuktikan kemampuan srigunggu dalam merelaksasi otot polos usus. Sifat otot ini sama dengan yang terdapat pada saluran kemih. Lenturnya otot saluran kemih akan membantu jalannya batu keluar. Syaratnya, batu itu masih kecil. Penelitian Yun Astuti dan Adjirni Sa'roni juga membuktikan infus srigunggu dapat menghancurkan batu kemih buatan, meskipun tidak ditemukan adanya efek diuretik pada tikus putih.

Srigunggu yang memiliki kadar kalium tinggi, ternyata juga mengandung senyawa flavonoid. Dari 100 g abu daunnya ditemukan 382 mg kalium. Bisa jadi, kandungan kalium yang tinggi inilah yang membuatnya mampu menyingkirkan batu ginjal.

Untuk menjadikan srigunggu sebagai obat, diperlukan lima lembar daunnya. Daun tersebut direbus dengan empat gelas minum hingga volumenya tinggal 3/4-nya atau tiga gelas minum. Air rebusan inilah yang dijadikan obat. Setiap kali meminumnya, diperlukan 3/4 gelas. Ini dilakukan tiga kali dalam sehari.

Yang tak kalah galaknya dalam mengusir batu ginjal adalah daun keci beling. Nama yang lebih dikenal oleh oleh orang Jawa. Namun, bila menyebut nama itu, tanaman yang dimaksud sebenarnya lebih dari satu yang sama-sama memiliki khasiat menyingkirkan batu ginjal. Yakni, Hemigraphis colorata Hall. yang memiliki nama lain sambang getih, Strobilanthes crispus BL atau Sericocalys crispus Bremek yang dikenal sebagai keci beling IV, dan Ruellia napifera Zall. atau keci beling III yang sering pula dijuluki sebagai tanaman gempur watu.

Sambang getih merupakan terna yang tumbuh liar dengan batang rebah. Biasanya ditanam di pinggir kebun. Daun tanaman ini mengandung kalium dengan kadar tinggi. Keci beling IV sejenis tumbuhan belukar yang kebanyakan tumbuh liar. Bagian yang digunakan obat batu ginjal adalah daunnya yang memiliki kadar kalium tinggi. Dalam 100 mg daun segar bisa diperoleh 322 mg kalium. Sedangkan informasi tentang gempur batu hampir tidak ditemukan selain bahwa daun tanaman ini dapat digunakan untuk mengobati kencing batu.

Untuk menyingkirkan batu ginjal dengan menggunakan daun sambang getih diperlukan 30 lembar. Semuanya direbus dengan dua gelas minum air hingga mendidih beberapa menit. Air hasil rebusan ini diminum sekaligus.

Bila menggunakan daun keci beling IV diperlukan delapan lembar atau dengan bobot 25 g. Potong-potong daun tersebut lalu direbus dengan tiga gelas minum air hingga tinggal 3/4 bagiannya. Setelah disaring, tambahkan madu secukupnya. Air rebusan tadi dibagi menjadi tiga bagian masing-masing diminum untuk pagi, siang, dan malam hari.

Sedangkan bila hendak memilih daun gempur watu sebagai obat, ada dua cara yang bisa dipilih. Pertama, diperlukan 10 lembar daun gempur watu segar. Daun tersebut diolah seperti mengolah daun keci beling IV. Begitu pula dengan dosisnya. Pada cara kedua diperlukan 15 g daun segar. Daun direbus dengan dua gelas minum hingga mendidih. Air rebusan tadi dikonsumsi untuk dua kali, masing-masing satu gelas.

Dalam keadaan krisis ekonomi, obat-obat alternatif seperti ini memang tidak ada salahnya dicoba. Di samping murah, khasiatnya juga sudah dirasakan sejak lama meskipun penelitian ilmiahnya masih sangat terbatas.

Bagaimana pun juga pencegahan munculnya batu di dalam ginjal lebih penting. Cara yang termudah adalah dengan minum air yang cukup banyak. Dengan demikian garam-garam pembentuk batu ginjal bisa terencerkan dan tidak terjadi pengendapan. Kalau pun sudah terbentuk dengan ukuran renik, garam tersebut bisa terbawa bersama urine. Mudah-mudahan. (*/B. Dzulkarnain)

Sumber :http://www.indomedia.com/intisari/1998/mei/ginjal.htm


SehatHerbal menyediakan Ektrak Tempuyung sudah dalam bentuk kapsul, mudah untuk dikonsumsi,harga Rp. 67.500,-/botol isi 50 butir. Info lebih lanjut dan pemesanan sehatherbal@yahoo.co.id atau 081310343598. Atau klik : http://herbmedicine.blogspot.com.
 

ZOOM UNIK::UNIK DAN UNIK Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger