Warung Bebas

Kamis, 26 Juli 2012

7 Perusahaan RI Masuk Daftar Terbaik Forbes

VIVAnews- Tujuh perusahaan Indonesia masuk dalam daftar Asia 200 Best Under A Billion dari majalah Forbes. Majalah itu melansir perusahaan terbaik di Asia Pasifik dengan pendapatan berkisar US$5 juta hingga US$1 miliar.

Forbes mengambil 900 perusahaan dan menyaring menjadi 200 perusahaan

Daftar perusahaan asal Indonesia yang masuk perusahaan terbaik itu  meningkat dibanding tahun lalu yang hanya tiga perusahaan. Tiga perusahaan yang tahun lalu masuk dalam daftar  itu adalah PT Jasuindo Tiga Perkasa, PT Nipon Indosari Corporindo Tbk dan PT Panin Sekuritas Tbk.

Adapun tujuh perusahaan yang masuk tahun ini adalah adalah pertama, perusahaan asal Indonesia berbasis di Singapura, Consciencefood Holding. Perusahaan ini memiliki pendapatan US$82 juta dengan laba US$14 juta dan nilai pasar US$54 juta.

Kedua, perusahaan tambang batu bara PT Harum Energy Tbk, dengan pendapatan US$805 juta dengan laba US$161 juta dan nilai pasar US$1,603 miliar.

Ketiga, perusahaan penyediaan dokumen PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk, dengan pendapatan US$56 juta, laba US$9 juta dan nilai pasar US$74 juta.

Keempat, perusahaan perkebunan PT Jaya Agra Wattie Tbk, dengan pendapatan US$71 miliar dan laba US$20 miliar, dan nilai pasar US$150 juta.

Kelima, perusahaan perkebunan PT London SUmatera Indonesia Tbk, dengan penjualan US$517 juta dengan laba US$188 juta dan nilai pasar US$2,112 miliar.

Keenam, perusahaan properti PT Metropolitan Land Tbk dengan pendapatan US$60 juta, laba US$17 juta dan nilai pasar US$345 juta.

Ketujuh, perusahaan tambang batu bara PT Resource Alam Indonesia Tbk, yang memiliki pendapatan US$235 juta, dengan laba US$50 juta dan nilai pasar US$453 juta.

Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam daftar ini adalah perusahaan yang memiliki pendapatan tahunan US$5 juta dan US$1 miliar, memiliki laba bersih positif, dan telah diperdagangkan setidaknya selama setahun. Forbes mengambil 900 perusahaan dari 15.000 perusahaan di seluruh dunia berdasarkan pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba, dan return on equity dalam 12 bulan dan selama tiga tahun.

Daftar perusahaan terbaik ini didominasi perusahaan China dan Hongkong. Sebanyak 72 perusahaan dari negara itu masuk daftar ini, tahun lalu cuma 65 perusahaan.

Aneh, Diguyur Hujan 3 Jam, Kota Padang Mengalami Banjir Bandang

PADANG - Wali Kota Padang, Fauzi Bahar, mengaku heran dengan musibah banjir bandang yang menerjang kotanya, Selasa malam kemarin. Padahal, hujan hanya mengguyur selama tiga jam.

Fauzi mensinyalir, penyebab banjir bandang yang terjadi pada pukul 18.30 WIB Selasa kemarin itu akibat penebangan liar.

“Ini jarang terjadi di Padang, padahal baru hujan tiga jam langsung terjadi banjir bandang. Paling-paling kalau hujan tiga jam hanya banjir biasa dari luapan sungai, tapi aneh, banjir bandang datang,” ujar Fauzi saat dihubungi Okezone, Rabu (25/7/2012).

Karena itu, lanjut dia, tim dari Pemkot Padang dan instansi terkait, akan menyelidiki penyebab pasti musibah tersebut.

Dia menambahkan, untuk sementara pemkot belum menetapkan tanggap darurat. Hari ini, Fauzi akan melakukan pertemuan dengan pihak terkait, apakah akan diterapkan tanggap darurat atau tidak perlu.

Sementara itu, sebagai penanganan awal, pemkot sudah menyalurkan makanan untuk sahur di tujuh titik pengungsian yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Pauh, Kuranji, dan Nanggalo. Tiga kecamatan itu merupakan lokasi terparah yang diterpa banjir bandang dibanding dua kecamatan lainnya.

Tim terpadu dari BPBD, dinkes, TNI, Kepolisian, dan PMI, juga melakukan pelayanan kepada para korban, berupa pengobatan, pendirian tenda, dan menyalurkan bantuan logisltik lainnya.

Sejauh ini Fauzi mendapat laporan ada 10 orang yang hilang. Tim SAR masih melakukan pencarian.

sumber : OKEZONE.COM
(ton)

ASEAN Tak Berdaya Menghadapi China Dalam Kasus Laut China Selatan

Harapan Filipina dalam pertemuan ke-45 Menteri Luar Negeri ASEAN, di Phnom Penh, Kamboja, Juli 2012, agar disepakatinya Kode Tata Berperilaku di Laut China, kandas. Kandasnya kesepakatan tersebut diakibatkan di antara anggota ASEAN sendiri, khususnya Kamboja dan Filipina, yang tak menemukan titik temu.

Menteri Luar Negeri Kamboja, Hor Namhong, dalam kesempatan itu menuturkan bahwa pertemuan ini bukan untuk membahas sengketa yang terjadi di Laut China Selatan. Bahkan lebih tegas, Hor mengatakan masalah sengketa di Laut China Selatan tidak perlu dibahas.

Filipina ngotot agar masalah di Laut China Selatan bisa diselesaikan oleh negara ASEAN karena negara itu butuh dukungan. Bila Filipina menghadapi China secara sendiri, secara militer dan hukum internasional, akan kewalahan. Untuk itu Filipina tak lelah-lelahnya membawa masalah ini ke dunia internasional.

Pengklaiman secara sepihak wilayah Laut China Selatan oleh China membuat ketegangan tidak hanya antara China dan Filipina namun juga dengan Vietnam, Brunai, Malaysia, dan Taiwan. Diantara negara itu Filipina dan Vietnam-lah yang paling seru memperebutkan wilayah Laut China Selatan. Negara-negara itu memperebutkan wilayah itu pasti dilandasi alasan bahwa ada sumber minyak yang menggiurkan.

Ketegangan antara Filipina dan Vietnam dengan China sudah pada tingkatan aksi militer. Dalam kondisi yang merasa lemah, membuat Filipina meminta bantuan kepada Amerika Serikat. Undangan Filipina kepada Amerika Serikat untuk masuk dalam konflik militer ini tentu disambut dengan senang hati oleh Amerika Serikat. Undangan Filipina ini dianggap oleh Amerika Serikat sebagai sarana untuk menghantam China sekaligus menacapkan pengaruh Amerika Serikat di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Untuk menghadapi China, Filipina tidak hanya menggandeng Amerika Serikat, namun Filipina juga memaki-maki Kamboja sebagai antek China di Asia Tenggara. Filipina menuduh Kamboja yang menolak disepakatinya Kode Tata Berperilaku di Laut China Selatan karena adanya tekanan China.
Mengapa pertemuan itu gagal membahas masalah di Laut China Selatan meski urusan itu melibatkan banyak negara ASEAN, seperti Filipina, Vietnam, Brunai, dan Malaysia? Alasannya adalah. Pertama, ketergantungan negara-negara ASEAN akan bantuan China. Sebagaimana kita ketahui China telah banyak memberi bantuan dan investasinya di negara-negara ASEAN, terutama di Myanmar, Kamboja, dan Indonesia. Bantuan yang diberikan ini tentu menjadi beban bagi banyak negara ASEAN bila hendak menentang China. Misalnya saja, ketika pemerintahan Junta Militer Myanmar diembargo ekonomi oleh PBB dan Uni Eropa, namun nafas ekonomi Myanmar masih menghembus karena adanya bantuan ekonomi dan perdagangan dengan China.

Dukungan kepada Myanmar tidak hanya masalah ekonomi dan perdagangan, namun juga penentangan-penentangan China kepada PBB dan Uni Eropa atas sanksi-sanksi yang hendak ditimpakan kepada Myanmar. Hal yang demikian membuat Myanmar tidak bersuara banyak dalam masalah Laut China Selatan.
Pun demikian dengan Indonesia, kita lihat banyak sekali bantuan ekonomi, pendidikan, teknis infrastruktur, transportasi, perdagangan, dan lain sebagainya yang diberikan China. Bantuan ini membuat kenyang Indonesia, sehingga kalau kenyang otomatis tidak membuat Indonesia kritis kepada China.

Kedua, bila konflik militer terjadi antara ASEAN dan China, pasti ASEAN tidak berdaya menghadapi gempuran militer China. Mengapa demikian? Sebab China tidak dipusingkan dengan masalah alutsista yang dimiliki. Selama ini China mampu memproduksi alutsistanya sendiri dengan canggih, modern, dan tangguh. Sebagai negara besar, penguasaan teknologi China sangat maju, buktinya China sudah mampu mengirim taikonot (astronot) ke luar anagkasa.

Sementara negara-negara ASEAN sendiri saat ini banyak dipusingkan dengan masalah alutsista yang dimiliki. Kita tahu bagaimana alutsista Indonesia? Tidak perlu dikupas di sini, sebab para pembaca sudah bisa menyimpulkan sendiri. Dalam kondisi yang demikian, maka Indonesia sebagai negara yang berpengaruh di ASEAN selalu mengatakan, “Dalam masalah Laut China Selatan harus dihindarkan penyelesaian secara militer.” Hal demikian sebenarnya menunjukan lemahnya kekuatan militer yang dimiliki Indonesia.

Ketiga, komunitas ASEAN berbeda dengan komunitas Uni Eropa dan Liga Arab. Uni Eropa adalah kumpulan negara-negara di mana penduduknya mayoritas beragama Kristen dan Katolik sehingga bila  negara yang ingin menjadi anggota Uni Eropa namun  mayoritas penduduknya bukan Kristen atau Katolik maka keinginan negara itu akan dipersulit. Lihat saja bagaimana susahnya Turki masuk ke Uni Eropa.

Demikian pula Liga Arab, organisasi ini adalah kumpulan negara yang seluruh penduduknya berbahasa Arab, beretnis Arab, dan beragama Islam. Dari dasar-dasar itulah maka mereka sangat solidaritas ke Palestina, di mana orang Palestina adalah etnis Arab, berbahasa Arab, dan mayoritas beragama Islam. Solidaritas inilah membuat Liga Arab menjadikan Israel sebagai musuh bersama.

Sementara itu ASEAN adalah lain. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini multietnik, bahasa, dan ras. Tidak adanya homogenitas inilah yang tidak bisa menjadikan ASEAN sebagai komunitas yang senasib dan seperjuangan. Sehingga China oleh ASEAN tidak seperti Uni Eropa memandang Turki atau Liga Arab memandang Israel.

Ketiga hal di ataslah yang membuat ASEAN serba bingung menghadapi China. Bila tidak dilawan, China akan semakin sewenang-wenang dan agresif di kawasan Laut China Selatan, namun bila dilawan, kekuatan apa yang dimiliki negara-negara ASEAN.

Dengan demikian, konflik di Laut China Selatan ini akan berlangsung lama dan terus memanas. Jalan pendek yang ditempuh Filipina adalah mengundang Amerika Serikat untuk berpartisipasi secara aktif untuk menyelesaikan masalah di Laut China Selatan. Karena ASEAN tidak mampu menyelesaikan masalah di Laut China Selatan maka ASEAN tidak bisa melarang kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Padahal negara ASEAN menyepakati bahwa kawasan Asia Tenggara adalah zona damai.

Ketidakmampuan ASEAN dalam menyelesaikan masalah kawasan akan membuat organisasi ini tidak bermanfaat bagi anggotanya. Dan dalam masalah ini menunjukan bahwa organisasi ASEAN secara ekonomi rapuh dan secara militer lemah. Akhirnya kawasan Asia Tenggara akan selalu menjadi wilayah konflik, baik ekonomi dan militer, yang melibatkan dan menguntungkan pihak-pihak lain.

Ardi Winangun
Pengamat Hubungan Internasional

Mangonel, Mesin tempur pelempar batu dari Abad Pertengahan


     Mangonel (berasal dari bahasa latin manganon, yang berarti "mesin peperangan") adalah sejenis pelontar atau mesin kepung yang digunakan pada Abad Pertengahan dan digunakan untuk melontarkan batu untuk menghancurkan dinding atau bangunan yang difortifikasi.
Kata mangonel secara tidak langsung dapat mengacu pada 'mangon', sejenis batu keras dari Perancis yang dapat ditemukan di selatan Perancis. Kata itu mungkin juga merupakan nama dari sejenis mesin artileri berpengimbang (trebuset), kemungkinan mesin berpengimbang yang digerakkan dengan bantuan tenaga manusia, atau jenis senjata yang memiliki kerangka umum semacam itu. Istilah manajaniq dalam bahasa Arab berasal dari kata yang sama, dan digunakan untuk menyebut berbagai jenis trebuset.
     Mangonel memiliki tingkat akurasi yang lebih buruk dibandingkan trebuset (yang diperkenalkan kemudian, beberapa saat sebelum penemuan dan penggunaan luas bubuk mesiu). Mangonel melontarkan batu berat, namun batu melintas lambat tapi memiliki kecepatan yang lebih tinggi daripada trebuchet dan dirancang untuk menghancurkan tembok, bukan melewatinya. Mangonel lebih baik digunakan pada medan perang.
     Mangonel melontarkan batu yang diletakkan pada wadah yang berada di ujung lengan pelontar. Wadah ini dapat melontarkan batu lebih banyak dibandingkan pelontar biasa, hal ini membuatnya berbeda daripada onager. Pada pertempuran, mangonel dapat melontarkan batu, benda terbakar (melontarkan periuk berapii; periuk ini diisi dengan bahan yang mudah terbakar sehingga akan terbakar ketika mengenai sasaran), dan lain-lain. Mangonel dapat digunakan untuk melontarkan mayat, yang sudah sepenuhnya hancur, dan juga sisa tubuh binatang dan manusia. Mayat tersebut dilontarkan untuk mengancam, menakuti, dan membuat musuh terkena penyakit. Taktik kadang terbukti efektif. 
     Suplai makanan yang tidak mencukupi, dikarenakan rusaknya dan rendahnya gizi makanan, dan juga buruknya kehidupan, buruknya kebersihan, dan penghinaan dianggap sebagai skenario menyebar nya penyakit. Perlu juga diketahui, bagaimana pun, prinsip mangonel pada peperangan, terutama peperangan Abad Pertengahan, mangonel digunakan untuk menghancurkan istana dan infrastruktur lainnya, bukan membunuh atau menakuti musuh.




for the past week, i have woken up to an addition in my bed....my 5 yrs old creeps in around 4:00 AM and then proceeds to want to talk, ask for water, and toss and turn for what seems like hours afterwards.  today, it's taken its toll b/c i cannot seem to wake up.....
 

ZOOM UNIK::UNIK DAN UNIK Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger