Warung Bebas

Rabu, 07 Agustus 2013

Today's Bad Health IT Systems: More Dangerous Than Paper?

I believe in 2013 that they are.

(Definition of bad health IT is here:  http://www.ischool.drexel.edu/faculty/ssilverstein/cases/)

I recently posted about two "glitches" in a major EHR seller's clinical systems, Siemens Healthcare, affecting safety-critical functions of medication reconciliation and medication ordering.


Considering these, plus the many "glitches" reported by the only EHR seller who does so via FDA's MAUDE database (see here: http://hcrenewal.blogspot.com/2011/01/maude-and-hit-risk-mother-mary-what-in.html), and the others posted at this blog at query link: http://hcrenewal.blogspot.com/search/label/glitch, the following issue needs serious consideration by policymakers.

Namely, the issue that enterprise electronic medical command-and-control systems, which today's "EHRs" in reality are, are on their face more risk-prone than the paper systems they are replacing.

The "glitches" reported above are clearly the tip of the iceberg due to industry norms of secrecy, the absence of most of the industry in reporting to FDA MAUDE or anywhere, and my limited sources of information.  It is likely the true level of "glitches" in live EHR/clinical IT installations is far, far higher  - conservatively, I believe, at least two orders of magnitude.

Workarounds to IT "glitches" such as recommended in the Siemens bulletins at the aforementioned posts cause hospital officials to have to  reliably get the notices to all users of the systems, including medical students, nurses, physicians and allied health professionals.

The workarounds also cause users to:

1)  have to deviate from habits of use acquired in training and active use of the systems in question;
2) remember, without fail, to deviate from habits of use acquired in training and active use of the systems in question, in effect giving them the responsibility of caring for sick patients and for "sick" information technology;
3) keep in mind any other extant workarounds that exist waiting for "fixes"; and
4) be constantly on guard for information storage failures.

In fact, the recent Siemens "glitches" and workarounds represent a clear danger to patient safety.  If these were more conventional medical devices, they'd be recalled.

See my Dec. 14, 2011 post "FDA Recalls Draeger Health IT Device Because This Product May Cause Serious Adverse Health Consequences, Including Death" (http://hcrenewal.blogspot.com/2011/12/fda-recalls-health-it-software-because.html) and July 23, 2012 post "Health IT FDA Recall: Philips Xcelera Connect - Incomplete Information Arriving From Other Systems"(http://hcrenewal.blogspot.com/2012/07/health-it-fda-recall-philips-xcelera.html) for examples where health IT defects similar to the Siemens issues were, in fact, recalled.

Further, with paper records or tangible images, a page or image can be lost, or it can be illegible.  In the case of lost, in any quality paper record keeping system the information stewards or others using the paper (e.g., office staff or ward clerks) will generally note the absence and act accordingly.  Further, illegible notes or orders will most often be recognized as illegible and result in attempted clarification or other corrective actions.

On the other hand, when electronic systems:

1)  lose modified information en masse as in the Siemens examples but keep the old, or
2)  when outright errors such as en masse truncation occur (as in the thousands of prescriptions whose long-acting suffixes were cut off at Lifespan in Rhode Island, see "Yet another health IT "glitch" affecting thousands" here: http://hcrenewal.blogspot.com/2011/11/lifespan-rhode-island-yet-another.html), or
3)  images are lost (see "Potential Image Loss in GE Centricity PACS" here:  http://hcrenewal.blogspot.com/2012/11/potential-image-loss-in-ge-centricity.html) without warning-

- There are no "flags" that the obsolete, truncated or missing information is erroneous.

What remains is perfectly legible, perfectly convincing and perfectly deceiving.

Electronic healthcare information systems on their face create more risk than paper record systems.  Further, the problem with "bugs" and "glitches" will not go away with today's industry models of "hiring down" and lack of regulation.  Every new upgrade or patch is suspect for introducing new bugs.

Paper does not suffer these issues, unless disappearing ink is used to cross out the old and add new information ...

Not that I am advocating for a return to 100% paper, but certain critical functions probably are best left to paper.  Further, hundreds of billions of dollars can certainly buy:

1)  a lot of Health Information Management professionals to perform continuous QA of paper,
2)  a lot of document imaging systems to make the paper records available anywhere, anytime they are needed, and
3)  a lot of data entry personnel to relieve clinicians of clerical burdens so they may use their valuable experience more productively, as guest poster Howard Brody points out at http://hcrenewal.blogspot.com/2013/07/guest-post-incompetent-management.html.
4)  a lot of sensible regulation of this industry's product quality.

-- SS

Masjid-masjid dan makam unik yang terbuat dari Lumpur

Di Mali pada zaman dahulu, masyarakat membangun sebuah bangunan dengan bahan dasar lumpur, beberapa masih bertahan sampai sekarang seperti yang berikut ini...

1. Masjid Raya Djenne



     Bangunan dari lumpur terbesar di dunia dan dianggap oleh banyak arsitek sebagai gaya arsitektur Sudano-Sahelian terbaik. Masjid ini terletak di kota Djenné, Mali, di dekat Sungai Bani. Masjid pertama di tempat ini dibangun pada abad ke-13. Selain merupakan pusat komunitas Djenné, kota ini juga merupakan lambang terkenal Afrika. Bersama dengan "Kota Kuna Djenné", tempat ini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1988.

2. Masjid Sankore

flickr.com
     Sankore merupakan pusat pembelajaran tertua yang terletak di Timbuktu, Mali,Afrika Barat. Pada tahun 1300, wanita Tuareg lokal mendanai pembangunan masjid Sankore. Dibawah kekuasaan Mandinka, masjid ini menarik pembelajar dari seluruh dunia Muslim.

3. Masjid Djinguereber



     Masjid ini dibangun pada 1327 saat pemerintahan Raja Musa I dari Kerajaan Islam Mali. Masjid ini terbuat dari lumpur, kayu, dan juga ranting-ranting. Masjid dengan 2 menara unik inii didalamnya terdapat 3 ruangan yang mampu menampung 2000 jamaah.

4. Makam Askia Mohammad I


Terletak di Gao, Mali dan merupakan Makan dari Raja Aski Mohammad I yang merupakan salah satu raja dari Kerajaan Songhai di Mali. Makam ini dibuat pada akhir abad ke 15 dan termasuk kedalam situs warisan dunia UNESCO.

5. Masjid Sidi Yahya


     Adalah Masjid dan madrasah yang terletak di Timbuktu, Mali. Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1440. Madrasah Sidi Yahya bersama dengan Masjid Djinguereber dan Madrasah Sankore membentuk Universitas Timbuktu yang sangat terkenal.

6. Masjid Raya Mopti

http://www.travelblog.org
     Satu lagi ni masjid lumpur dari mali, mopti namanya. Masjid ini juga disebut Masjid Komoguel terletak di provinsi Mopti, Mali. Seperti bangunan-bangunan lainya, ia juga termasuk dalam situs warisan dunia UNESCO.

Mainan Anak Bayi

Mainan Anak Bayi
merupakan salah satu bentuk stimulasi untuk anak bayi.
Memberikan mainan yang tepat pada anak bayi akan membantu untuk
memaksimalkan rangsangan pada
kecerdasan anak. Namun sayangnya, tak banyak orang tua yang menyadari
terhadap bagaimana cara memilih mainan yang tepat untuk anak bayinya.
dr.Atilla Dewanti Sp.A(K), Dokter spesialis anak, menyatakan kalau
pemilihan mainan

11 Spesies Burung yang telah Punah

1. Dodo



Punah Pada = Akhir abad ke-17

Habitat Asli = Pulau Mauritius di tengah Samudera Hindia

Penyebab Punah
     Dodo adalah burung yang tidak takut pada manusia, dan ditambah ketidakmampuannya untuk terbang, membuatnya menjadi mangsa yang mudah ditangkap. Manusia pertama yang mendatangi Mauritius membawa binatang baru, seperti anjing, babi, kucing, tikus, dan kera pemakan kepiting yang menghancurkan sarang dodo, sementara manusia menghancurkan hutan tempat dodo tinggal. Kini, dampak dari binatang-binatang itu terutama babi dan kera pada kepunahan dodo dianggap lebih berpengaruh dibanding pengaruh dari perburuan.

2. Elang Haast

Punah Pada = Abad ke-19
Habitat Asli = Pulau Selatan, Selandia Baru

Penyebab Punah 
     Burung ini juga dikenal sebagai Elang Harpagornis yang merupakan elang terbesar yang pernah hidup .Awal pendudukan manusia di Selandia Baru (Suku Māori tiba sekitar 1,000 tahun lalu) yang memangsa dengan kasar pada burung besar yang tidak dapat terbang inidengan cepat membawa mereka menuju kepunahan. Hal ini menyebabkan Elang haast punah sekitar 1500 ketika sumber makanan terakhirnya berkurang.

3. Emu Tasmania

Punah Pada = Pertengahan Abad ke-19
Habitat Asli = Pulau Tasmania, Australia

     Burung ini ditemukan di Tasmania dimana binatang ini terisolasi selama Pleistocene Akhir. Saat ini, emu tasmania hanya diketahui dari tulang subfosil, belum diketahui mengapa ia bisa punah.

4. Merpati Penumpang

Punah Pada = Abad ke-19
Habitat Asli = Amerika Serikat

Penyebab Punah
     Berkurangnya populasinya disebabkan oleh hilangnya habitat ketika orang Eropa mulai memasuki daerah dalam. Namun, akibat utama kepunahannya adalah ketika daging merpati dikomersialisasikan sebagai makanan murah untuk budak dan orang miskin pada abad ke-19, menyebabkan perburuan besar-besaran. "Martha" diketahui sebagai merpati penumpang terakhir di dunia yang meninggal pada tanggal 1 September 1914 di Cincinnati, Ohio.

5. Pelatuk Raja


Punah Pada = Tahun 1950-an
Habitat Asli = Meksiko

     Jika binatang ini tidak punah, binatang ini merupakan spesies burung pelatuk terbesar di dunia. Burung ini pernah tersebar secara luas dan, sampai awal tahun 1950-an, jarang dijumpai di seluruh Sierra Madre Barat, Meksiko, dari barat Sonora dan Chihuahua menuju ke selatan sampai Jalisco dan Michoacan.

6. Parkit Carolina


Punah Pada = Tahun 1904
Habitat Asli = Amerika Serikat bagian timur

Penyebab Punah
     Parkit carolina punah karena banyaknya ancaman terhadap spesiesnya. Untuk membuat area pertanian, area luas di hutan ditebangi, membuat habitatnya semakin terbatas. Bulu-bulunya yang beraneka warna sering digunakan sebagai bahan dekorasi topi wanita, dan burung ini juga sering dijadikan sebagai binatang peliharaan. Burung-burung ini sangat mudah ditangkap, dan sedikit yang dibiakkan para pemiliknya. Akhirnya, mereka mati dalam jumlah besar karena para petani menganggap mereka sebagai hama.

     Faktor lain yang mendorong kepunahannya adalah kebodohan yang membuatnya selalu kembali ke lokasi dimana beberapa burung baru saja dibunuh. Hal ini mendorong lebih tinggi terjadinya penembakan oleh pemburu ketika mereka sedang mengumpulkan sekawanan burung yang mati dan terluka.

7. Moa Raksasa


Punah Pada = 1500
Habitat Asli = Selandia Baru

Penyebab Punah
     Moa merupakan salah satu burung terbesar yang pernah hidup. Seperti jenis lainya,ia dihabisi oleh koloni manusia yang memburunya untuk makanan. Semua taxa pada genus ini punah pada tahun 1500 di Selandia Baru.

8. Mandar Merah

Punah Pada = Sekitar tahun 1700
Habitat Asli = Pulau Mauritius di tengah Samudera Hindia

Penyebab Punah
     Mandar ini diburu hingga punah di abad setelah penemuannya. Dodo yang dikatakan kurang enak, biasanya dibunuh karena rasa ingin tahu atau kebosanan, namun mandar merah merupakan burung mainan yang sangat terkenal di kalangan penduduk Belanda dan Perancis. Sementara burung ini dapat melarikan diri dengan baik saat dikejar, burung ini juga mudah sekali terpikat dengan menunjukkan kain merah pada burung, yang kemudian akan diserangnya.

9. Grebe Alaotra

Punah Pada = 2010
Habitat Asli = Danau Alaotra di Madagaskar

Penyebab Punah
     Spesies ini terakhir terlihat pada tahun 1985 dan dikonfirmasi punah pada tahun 2010, meskipun semua wilayah habitat yang tersisa belum dicari secara menyeluruh. Spesies ini secara resmi dinyatakan punah pada tahun 2010, setelah terakhir terlihat pada tahun 1985. Walaupun beberapa spesies telah diklasifikasi sebagai punah dan selanjutnya dikonfirmasi belum punah, Leon Bennun, direktur organisasi konservasi BirdLife International menyatakan bahwa "tidak ada harapan yang tersisa bagi spesies ini," dan menyalahkan "konsekuensi yang tidak terduga" dari perbuatan manusia.

10. Pinguin Waitaha

Tulang dari Pinguin Waitaha yang ditemukan (klimanaturali.org)
Punah Pada = antara tahun 1300-1500
Habitat Asli = Selandia Baru

Penyebab Punah
     Pinguin ini ialah spesies pinguin di Selandia Baru yang telah punah yang ditemukan pada bulan November 2008. Karena suku Māori yang merupakan suku asli Selandia Baru tidak punya catatan atas spesies berbeda ini, diperkirakan hewan ini telah punah antara tahun 1300-1500, segera setelah permukiman bangsa Polinesia di Selandia Baru.

11. Pelatuk-Paruh Gading


Punah Pada = Akhir abad ke-20
Habitat Asli = Amerika Serikat bagian selatan

     Burung ini secara resmi didaftarkan sebagai spesies terancam, namun pada akhir abad ke-20 telah ditetapkan secara luas sebagai spesies yang telah punah. Sebuah laporan menyatakan ditemukannya spesies jantan di Arkansas pada tahun 2004 dan 2005 dilaporkan oleh sebuah regu dari Laboratorium Ornitologi Cornell pada April 2005. Jika benar, hal ini akan menjadikan Pelatuk paruh gading menjadi sebuah spesies lazarus, suatu spesies hidup yang ditemukan kembali setelah ditetapkan punah selama beberapa waktu.

Selasa, 06 Agustus 2013

Anak Bayi Lucu

Anak Bayi Lucu - Siapa yang tidak gemas saat melihat wajah dan tingkah polah bayi yang memang lucu dan menggemaskan. Bayi memang punya sejuta pesona. Ia lucu, polos, menggemaskan,
dan masih banyak lagi pujian lain yang disasarkan pada anak bayi. Mungkin itu karena mereka masih polos dan tak berdosa. Anak bayi memang
terlihat lucu karena kepolosannya, anak bayi memang lucu sebab masih imut-imut.
 

ZOOM UNIK::UNIK DAN UNIK Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger